Langsung ke konten utama

Maafmu Belum Terlambat

Karena kamu juga harus perbaiki hubungan dengan sesama

Ya Allah, Sesungguhnya engkau maha pemberi ampunan dan maha pemurah, engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku.
H.R. Tirmidzi
(Doa Lailatul Qodar)

H+28 Ramadhan
Seandainya masing-masing kita tahu seberapa banyak dosa kita, dan dosa itu bisa berbau. Alangkah hina nya diri ini. Bahkan mungkin formula sabun wangi apapun tidak cukup untuk membuat diri harum mewangi.
Entah mengapa, hati saya tergerak untuk menuliskan ini. Secercah harapan diakhir ramadhan. Refleksi diri yang jenuh berlumuran dengan dosa. Juga pengibaratan jiwa yang mulai lelah diseret hiruk pikuk dunia. Lengkap dengan ironi hebat yang terus berkecambuk dalam jiwa. Saya merefleksikan diri cukup lama, atau bahkan sangat lama. Dengan segenap perasaan kalut dan berat layaknya orang yang tak jua menemukan jawaban atas pertanyaan berat selama ini. Akhirnya saya berhenti pada satu kesimpulan “saya harus bertanya” pada ahlinya.

 “Wajibkah saya meminta maaaf pada individu yang saya sakiti? Atau saya hanya wajib memohon ampunan dari Tuhan?”

Dia tak tertawa, tak juga menanggapi  serius. Menjelaskan setiap detail alasan juga pengertian, Seperti biasa ia menjawab dengan asumsi yang mudah ku mengerti. Beragam contoh mudah pun dilontarkan. Hingga pada akhirnya ku simpulkan, aku harus  meminta maaf.
Tak mudah, ironi lain muncul sebagai hantu yang terus bergelayut, lamanya waktu berpikir membuatku takut untuk meminta maaf. Kesalahan yang awalnya terasa berat menjadi semakin berat karena lamanya waktu.

Kebimbangan muncul sebagai hasil dari bolak-baliknya hati.

Dengan resiko harus menerima akibat dari setiap kesalahan ditambah keterlambatan untuk berkata maaf, kuputuskan untuk meminta maaf. Dengan berbagai pondasi kuat dan keteguhan hati ku siapkan diri menerima apapun hasilnya.

Tapi bukankah memaafkan adalah tugasnya?
Sedangkan tugasku hanyalah meminta maaf?
Dan berarti aku sudah selesai kan?

Terlibat dalam kesimpulan yang rumit, ku tuliskan point yang kudapat dari ini semua. Kadang kita perlu mengerti, perlu menghargai orang lain. Tentang perassaan juga tentang kebutuhan dasar sebagai manusia. Tulisan ini mungkin menunjukan sisi jiwa saya yang sedikit lamban untuk berkata maaf. Tapi saya juga manusia, hati saya tidaklah selalu tetap dalam kebaikan. Kadang saya baik tapi lebih sering jahat mungkin. Hahaha
Saya yakin banyak orang yang juga memiliki ironi yang sama. Ingin meminta maaf namun terkendala banyak hal. Sebut saja gengsi, merasa terlambat, ketakutan akan adanya penolakan dan beragam hal lainnya. Namun harusnya hal-hal diatas tidak menghalangi niat baik kita sedikitpun. Selalu ingat bahwa kita perlu hubungan baik dengan manusia, dan hubungan yang sangat baik tentunya pada Sang Khalik.

Merasa cukup telah meminta ampunan pada Tuhan mungkin akan membuat kita sedikit lega. Juga berbesar hati hingga akhirnya berakhir sombong. Lupa kalau kita menyakiti hati orang lain, lupa kalau orang lain menunggu kita untuk mengucapkan maaf, lupa kalau “dia” mungkin saja membentuk dendam, lupa kalau doa orang yang dianiaya dikabulkan oleh Allah?
Jadi sampai kapan menunda maaf? Sampai kapan terus termakan gengsi seolah kita akan hidup ribuan tahun? Seakan lupa kalau setelah mati akan nada hari perhitungan?
Maka, sampaikanlah maaf untuknya. Dia yang mungkin saja telah kamu lupakan. Dia yang kamu fikir telah memaafkanmu? Dia terlihat baik-baik saja, tapi hatinya? Siapa yang tau. Maka… minta maaf lah sebelum keterlambatan itu terlalu panjang…

Ahhhh… salahku mungkin terlalu banyak
Hingga tak mungkin lagi dengan cepat dimaafkan
Tapi aku tau, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.
Jadi, Maafkan AkuJ

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.