Langsung ke konten utama

Our (family) Stories

source: pinterest.com



Tadi sore, tepatnya pukul 19.00 wib saya baru sampai di kosan. Saya merasa lelah sekali karena harus bolak-balik kampung halaman-kosan yang harus saya tempuh dalam waktu 2 jam dengan naik motor. Dan lebih menyebalkan lagi karena
saya melakukan ini hanya untuk melakoni SP ( Semester Pendek) yang berlangsung di jadwal libur semester genap ini. Penat, lelah, bosan, mungkin tidak perlu lagi saya ungkapkan karena rasanya benar-benar menyiksa. Terlebih lagi saya harus kehilangan waktu istirahat, waktu bermain, dan waktu berkumpul dengan keluarga. 

Sangat konyol apabila saya menyebutkan alasan saya SP, mengingat nilai yang saya perbaiki juga tidak tergolong buruk, hanya saja sedikit kurang bagus (haha).Teman-teman kuliah saya juga mungkin sedikit mengejek, karena saya mungkin terkesan "ngambis". Ahh.. kalo kamu ngga tau artinya, tanya sama anak Akuntansi sekitar yaa. InsyaAllah tau, hehe

Tapi jujur. ini bukan soal ngambis, bukan soal mengejar IP yang wah, bukan juga untuk pamer transkrip. ahh bukan gue banget -___-. Ini tentang aktualisasi diri dan mewujudkan cita-cita kedua orang tua haha *ketinggian bahasa, maavkeun

Saya jadi pengen cerita sesuatu, hal-hal mendasar dalam kehidupan saya. Hal-hal yang bikin temen-temen saya yang geleng-geleng kepala kenapa saya nurut banget sama permintaan mereka (ortu). So? here is the reason:

Saya anak sulung dari 2 bersaudara, saya dianugerahi otak yang Alhamdulillah sama Allah, yaa walaupun ngga se-cerdas temen-temen kelas tapi yaa ini aja udah bikin saya bersyukur banget, dan fyi: orang tua saya juga bukan dari keluarga berada yang semuanya udah bagus dari lahir. Yang apa-apa udah tersedia, bukan.. sama sekali bukan. Semua serba sederhana dan bener-bener dimulai dari nol sejak mereka nikah. *Hmm jadi pengen nikah dan mulai dari nol (haha)

Sebagai anak pertama, saya paham betul gimana konsep naik-turun bareng dalam rumah tangga. Saya bahkan ikut jadi saksi gimana berjuangnya mereka berdua. Dari kecil, saya selalu diajarin hidup sederhana plus harus selalu ngerti keadaan orang tua. Juga konsep-konsep hidup mandiri yang bener-bener susah diaplikasiin. Bukan hal mudah memang (karena dasarnya anak selalu nuntut). Tapi kedua orang tua saya, yang benar-benar hebat itu berhasil menanamkan konsep itu di kehidupan saya. 

Saya yang dari kecil sakit-sakitan, mulai dari sering masuk angin sampe gejala tipes yang hampir setiap ujian menyiksa, saya juga bukan anak yang super nurut, faktanya saya hampir 2 kali mati karena kecelakaan di jalan raya, syukur Allah masih kasih kesempatan hidup, hehe Alhamdulillah..
Selain riwayat penyakit yang bener-bener buruk dan menyiksa, masih banyak banget kerepotan orang tua yang harus nanggung punya anak kaya saya. heuheu maafkeunn

Saya bener-bener bersyukur punya mereka, gak bisa terbantah dan terbayar dengan apapun. Apalagi kalo udah segede sekarang (sok gede yaah) suka khawatir kalo salah satu dari mereka sakit, suka pengen cepet-cepet pulang, bahkan belakangan kepikiran... suka malu minta biaya hidup sama ortu mulu. Tapi gimana? cari sendiri juga masih belum sanggup. *Kann, jadi pengen dinafkahin kamu (haha)

*Balik ke topik
Dari kecil, yang namanya ngelewatin batasan diri udah sering saya lakuin. Aktualisasi diri, pembuktian kalo saya bisa, sampe kepikiran bales dendam ke setiap orang yang ngehina pun selalu ngebayang.
tapi, saya yang salah satu penggemar om mario teguh ini yakin.
"pembalasan terbaik adalah dengan tumbuh dengan sangat baik, sampe cemoohan itu berubah jadi tepuk tangan"
Saya yang udah sering mau mati ini, selalu kepikiran untuk terus-menerus jadi lebih baik tanpa pernah peduli apa yang orang bilang. Saya selalu percaya setiap rasa sakit ini akan memberikan efek positif ketika saya mengubahnya menjadi cambuk. Yang selalu saya pikir adalah mereka ga rasain rasanya dihina sama banyak orang, diremehin, dikira ga sanggup, bahkan dianggap ngga ada. hmmm I think thats more than hurt (kok jadi curhat)

Jadi jangan heran kalo saya mungkin terlihat benar-benar ngambis, memompa diri terlalu keras, memaksa sesuatu yang basicnya bukan kemampuan saya, atau bahkan bertindak diluar kendali. Kesemuanya sudah saya pikirkan dengan matang dan dengan persiapan yang ngga sebentar. Dan lagi, semua untuk mereka. Supporter terbaik dalam hidup. Saranghae <3


Goal-goal kecil dalam kehidupan keluarga kami pun mulai tercapai, kami mulai bisa merasakan tepukan tangan walau hanya dengan 2 jari, kami juga mulai merasakan bagaimana nikmatnya dihargai orang lain, dianggap ada, setara dan jelasnya keberadaan kami disambut hangat. Well, cahaya terang itu mulai masuk membuat hangat hati kami. Tapi, kami akan terus maju bersama, ditambah dengan satu krucil (adikku) dalam keluarga kami yang semakin membuat kami semangat berlari bersama.

Kami (keluargaku) masih belum berpuas saat ini. Mungkin karena kami memang manusia yang pada dasarnya tidak pernah puas, atau karena tujuan kami belum sepenuhnya tercapai. Tapi setidaknya, setelah ini bisakah kamu berhenti menyebut saya ngambis? atau terlalu cinta dunia?

Bisakah kamu berhenti menilai tanpa tau latar belakang? sedang kamu juga tidak tau berapa banyak air mata yang sudah saya keluarkan untuk berada di posisi ini, untuk terus membuat mereka bangga, untuk terus membahagiakan mereka, untuk terus membuktikan bahwa saya akan berlari paling depan demi menyemangati cita-cita keluarga kami.

Dari saya, si sulung yang sangat sayang keluarga

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Sebuah Tujuan: We will fight!

"Hari ini hari terakhir" , Kata Ilham.

Dan yep, sukses membuat hatiku senang karena pada akhirnya aku memenuhi janji pada diri sendiri untuk tetap bertahan hingga akhir bulan. Ditengah-tengah keinginan untuk menyerah. Ditengah rasa kebodohan ku yang keral kali menyiksa. Ditiap hembusan syaitan yang selalu menggoda dari arah mana saja. Alhamdulillah, Laa Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Aku bersyukur pada Allah yang selalu menguatkanku, mengizinkanku untuk sampai pada titik ini.

Esok aku akan pulang. Pamit, dan minta uang jajan tentunya hehe. Untuk berangkat ke Kediri.

Aku tidak tau persis bagaimana Kediri, aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku sejauh itu. Tidak pernah bahkan kubayangkan diriku akan kesana. Sungguh Allah selalu menunjukkan sifat Maha Baik nya padaku yang tidak akan bisa kuhitung nikmatnya.

Aku sampai pada titik ini saja, aku sudah bersyukur. Dan rasa syukur ini akan aku wujudkan dengan kesemangatan ku melanjutkan tahap selanjutnya. Semoga aku tidak men…

Sebuah Tujuan : Alhamdulillah, I did it!

Kutulis ini di sebuah kafe favoritku, bukan kafe sih, sebuah kedai yang menjual aneka rasa susu sapi. Tempat me time favorit saya sedari kuliah. Kutulis ini dengan segala macam perasaan, terlebih perasaan takut lupa,jadi ku kenang saja sekarang ya.

Main Kuis dapat Kuota Gratis

Hallo everybody..
Saat ini aku sedang cobain sebuah kuis berhadiah kuota gratis nih , Awalnya aku pikir ini semacam hoax karena hari gini gak mungkin ada yang gratisan kan?  Eh tapi karena aku penasaran dan udah banyak yang cobain, aku jadi penasaran juga buat ikutan. Yah, mencoba sesuatu gak ada salahnya kan.. (kalau kamu ragu ini hoax, kamu bisa langsung cuss untuk cek sendiri).

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…