Langsung ke konten utama

Bisakah tetap seperti ini

Tulisan malam ini terinspirasi dari seorang teman saya yang menuliskan sebuah tulisan dengan judul serupa di tumblr dan kemudian di capture menjadi sebuah story di WA. Tulisan tentang harapan yang serupa doa. Tulisan yang membuatnya ketika saya membacanya membuat saya berkata 'ah iya banget nih'  hihihi. Saya jadi ingin mengulas tapi dengan versi saya.

Bisakah kita tetap seperti ini, tanpa peduli saya mantan siapa,  masa lalu saya seperti apa,  tanpa membandingkan kehidupan kita di masa lalu. Tanpa memperdulikan status kita apa,  aku siapa kamu siapa,  tanpa pernah memaksa kehendak untuk sekedar membentuk kata 'kita'.

Bisakah kita terus seperti ini,  tetap bercanda,  berbagi dan hangat seperti sebuah teman. Tanpa banyak embel-embel gosip murahan yang sedikit terdengar menyakitkan. Ahh saya lupa,  saya yang pemikir dan kamu yang santai tentu berbeda menghadapi masalah ini. Yaa,  saya mungkin harus belajar tidak peduli pada beragam kicau yang tidak pernah penting.

Bisakah kita tetap saling bercanda,  melempar tatap dalam diam, tetap bertegur dalam dinding pembatas,  dan berseru tanpa berseteru.

Aku ingin bertanya,  apakah ini semua terasa menyenangkan bagimu? Aku nyaman pun kamu, tidakkah kamu merasa demikian?  Kita menikmati setiap detik yang tercipta tanpa melibatkan rasa. Berbagi seolah tau kemana arah pikiran akan pergi. Dan aku suka! Kalau kamu tidak,  yaa bagiku tidak apa-apa.

Aku suka bagaimana kamu begitu aneh tapi membuatku terkekeh. Aku suka bagaimana kita beradu pikiran tanpa saling menjatuhkan. Suka untuk menikmati setiap hentak perdebatan tanpa harus menyakitkan. Dan aku rasa,  hal-hal ini tidak terjadi pada makhluk lain. Yaa... Beberapa dari mereka menyenangkan,  tapi tidak menenangkan. Beberapa membuatku mengalah dalam perdebatan,  tapi tidak mengalahkan.

Bisakah kamu terus-terusan membuatku salah ketika salah. Membuatku harus mempebaiki setiap detail yang tidak benar. Bisakah tetap seperti ini,  yaa setidaknya sampai aku benar-benar baik. Tapi kalau aku tidak pernah baik, bisakah terus seperti ini?
Nyaman,  seperti berada di rumah. Tidak ingin pergi,  tidak ingin pulang. Hanya terus tinggal

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…