Langsung ke konten utama

Haruskah saya mendoakan


Beberapa hari ini saya lagi labil.  Kadang saya ketawa,  terus saya kadang tiba tiba pengen diem aja,  kadang juga pengen nangis. Dan yep,  beberapa terjadi karena pengaruh sesuatu.  Kadang lagi karena ga tau kenapa. Semacam bingung, sedih,  pengen nyelesain tapi gatau apa dan gimana caranya. 
Saya jadi sering sedih, apa mungkin ada hubungannya saya yang mulai diem-diem nulis orang baru di diary saya. (Yep,  setelah bertahun-tahun saya berhenti nulis diary,  saya memulai lagi).  Tapi kok apa hubungannya sama  saya sedih.  Saat saya yakin bukan orangnya yang bikin sedih,  bukan. Mungkin saya aja yang lagi sensitif akhir-akhir ini.  Hm. Yaa saya lagi sensitif.  Isn't it?

Kalau dulu cerita diary saya beragam dan kebanyakan hepi hepinya, sekarang jadi lebih banyak bingungnya.  Bingung apa saya beneran berharap,  apa saya beneran mau,  apa dia mau,  apa dia bisa terima,  apa dia juga sama kaya saya,  dan banyak banget pertanyaan ngegantung lainnya yang bikin saya terus bingung tanpa tau jawabannya.

Yaa,  kalimat 'Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada berharap pada manusia'  itu bener kok.  Dan saya gak menyangkal itu. Saya malah seratus persen percaya sama kata-kata itu,  dan memang seharusnya  kita berharap pada Allah kan?

Tapi bentar deh,  saya jadi  inget nasehat yang saya denger tentang mendoakan orang lain.  Ini bener-bener membingungkan saya. I mean,  saya kok masih ragu yaa mau mendoakan orang lain. Entah antara ragu atau tidak teryakinkan, saya juga masih bingung. Jadi kalau ditanya saya mendoakan siapa? Maka jawaban saya di umur 20 ini adalah tidak ada yang saya doakan. Tepatnya saya belum ingin mendoakan siapa-siapa.  Oke,  mungkin lazim untuk perempuan seumur saya berdoa soal jodoh,  dan ini memang dilakukan teman-teman saya.  Tapi saya engga. Atau.. Kata belum mau lebih tepat saya pakai.

Saya belum siap berdoa,  karena saya jadi takut. Takut kalau saya berdoa saya berharap terlalu jauh terus ngga kesampaian lalu saya jadi mendustai nikmat Allah yang begitu luas. Saya gak mau jadi orang yang kufur nikmat,  naudzubillahi min dzaliik.  Selama ini saya jadi cuma pengen biar orang lain aja yang doain saya,  dan saya cukup diam untuk menerima tiap bait-bait doa itu. Melepaskan sepenuhnya kuasa Allah menentukan kepada hati yang mana hati saya akan berlabuh. 

Saya sendiri,  lebih senang berdoa untuk orang-orang sekeliling saya.  Supaya mereka dapat segala yang terbaik,  termasuk jodoh. Ketimbang saya berdoa supaya dapat jodoh yang baik. Bukannya mendoakan orang lain dalam diam juga dapat balasan yang setimpal,  yakan? Jadi menurut saya ini lebih relevan.  Daripada saya mendoakan dia,  terus gagal lagi..  Terus saya seolah merutuki alam yang tidak mendukung saya. Ahh dosa banget kan? Padahal nikmat Allah itu luas dan buanyak banget untuk saya. Hmm semoga saya semakin ngerti cara bersyukur :).

Jadi kesimpulan akhir kenapa saya sedih?  Kenapa ya? Saya bahkan gak tau kenapa. Saya cuma bisa tiba-tiba diem, diem dan diem. Saya seperti melaju di roller-coaster tapi lagi di posisi atas.  Saya tau saya bakal dijatuhkan sekencang mungkin.  Pertanyaannya,  saya bakal jerit pas di jatuhkan atau muntah atau justru diem aja kemudian pingsan. Ahh who knows? 
Jadi gimana,  saya harus doain kamu kah? Atau gimana?  Sungguh,  saya buta tentang hal semacam ini.
Bahkan nulis ini aja bikin saya tetep bingung.
Hm good sleep.

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.