Langsung ke konten utama

Melamar adalah bukti cinta


Kemarin,  sabtu (30/12) saya menghadiri undangan teman saya. Bukan pernikahan sih,  bukan undangan makan-makan juga,  tapi undangan lamaran, ehh maksudnya diundang menyaksikan prosesi lamaran. Lamaran nikah loh ya,  bukan lamaran kerja hahaha.
Saya berangkat (sendirian)  naik bus ke rumah temen saya,  saya tiba saat
teman saya lagi di dandani oleh para MuA abal-abal dari UIN haha. Teman saya hari itu cantiiik sekali,  yaa memang aslinya cantik sih, tapi semacam ada aura berbeda ngeliat dia hari itu. Rasa lelah saya jauh-jauh dari Bandar Lampung ke Lampung Selatan akhirnya terbayar manis dengam senyum dia yang manis,  ehe.

Setelah menemani dia yang dagdigdug nunggu calon,  akhirnya pukul 10 lebih sekian menit si calon dateng. Yang lengkap sama seperangkat keluarga besar. Saya dan para calon brides(maid)  pun keluar kamar dan mulai dokumentasi sesuai permintaan si empunya hajat. Prosesi berlangsung hikmad dengan adanya juru bicara dari masing-masing pihak,  saya yang jomblo ini ikutan melting terus mbatin..  Oh gini toh yaa caranya.  Terus mbatin,  lagi..  Oh Allah. I think SL is best way,  but as a human. I really love something romantic, like romantic 'lamaran'  Ehhh.. Kalo bisa dan kalo boleh,  kalo engga yaaa i should accept SL and i'm grateful if it come.. 

Klimaks acara ini di penyerahan cincin,  yep!  Belum makhrom jadinya cincin hanya di serahkan ke pihak perempuan yaa,  bukan di pakaikan.  Ini mungkin bisa disebut  Lamaran syar'i.  Ngga mewah si,  tapi cukup lah untuk mendebarkan jiwa-jiwa jomblo kesepian.
Setelah acara selesai,  semua orang pulang. Termasuk saya yang harus balik lagi ke kosan,  dan balik lagi kesepian. Huhu..

Saya jadi inget quote saya bertahun-tahun, "Salah satu bukti cinta itu ya melamar titik". Yaa,  mau berjuang mendaki gunung menyelami lautan samudra juga kalo ga ngelamar mah yaa gak bisa jadi. Jadi masih ada kemungkinan ketikung sama yang lain. Jadi jangan sampai ketikung yaa pembaca yang budiman,  hihihi
Saya melting tiap kali denger acara lamaran. Kalau perempuan lain melting pas akad,  saya sih lebih melting pas lamaran. Karena menurut saya,  gak akan lanjut sampai akad kalau dia ngga berani lamar. Tuh! Makanya saya lebih melting di prosesi ini.  Ya walaupun banyak juga sih yang prosesi lamarannya biasa aja,  jadi lebih menitik beratkan di akad. Yaaahh that's your choice. Mau lamaran atau akad yang lebih melted,  tetep aja kan yang penting berakhir halal. Hahaha

Semoga semua jomblo segera menemukan tambatan hati dan di lamar. Semoga kita menemukan pasangan yang mampu membuat pipi kita bersemu merah saat melamar. Orang yang mampu mendebarkan jiwa kita saat dia memboyong seluruh keluarganya datang ke rumah. Dan semoga kita dijauhkan dari fitnah pacaran. Amin. 


Notes: saya sering nulis tentang hal semacam nikah,  pacaran,  lamaran,  dan sebagainya itu bukan karena saya yang kebelet nikah yaa.  Fyi,  saya bahkan udah menulis hal-hal semacam ini dari saya masih smp,  kebayang dong semasa itu saya sekecil apa?  So that's why stop to blame that i wanna marry soon.  I'm not ready yet!  Please :) 

Komentar

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…