Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Cerita KKN (Ucapan Maaf)

Hari ke tiga puluh delapan KKN, masih dari desa Teba Bunuk yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Masih dengan tujuh orang yang berbeda karakter. Masih dengan kami yang suka diem-dieman. Masih kami yang kurang komunikasi, dan kami yang akan segera berpisah.

Aku dan Harapan

Aku ini manusia biasa
Berparas biasa
Berpenampilan biasa
Akhlakpun biasa

Cerita KKN (Saranghae Lingsuh)

Ditulis di hari ke 31 kkn,  masih di kamar sama, tidur berempat, lengkap dengan kamar yang sudah gelap karena sudah pada tidur. Saya kali ini mungkin tidak lagi bercerita tentang kkn kami, tapi tentang sesuatu yang akhir-akhir ini saya sadari menjadi 'lucky to have them'. Eaa.

Sebuah sajak rindu

Hallo, selamat malam.
Dari saya yang baru saja makan ayam bakar, lalu siap nyemil roti gabus. Tapi tetap saja kurus
Hai,
Apa kabar?  Kamu yang senyumnya manis dan tulus.
Kata dilan, rindu itu berat ya.

Cerita KKN (Kembali ke masa kecil)

Hari ke 25 kkn dan akan kembali dalam hitungan 2 minggu. Ngga kerasa 40 hari akan berputar sedemikian cepatnya. Awalnya,  semua kerasa berat. Saya sering nangis karena kangen teman-teman saya. Kadang juga tertekan karena saking gabutnya.

Cerita KKN (Mensyukuri hal kecil dalam hidup)

Cerita ini saya tulis bersamaan dengan kaki saya yang nyut-nyutan habis pulang dari air terjun, dan mata saya yang menyipit karena layar ini terlalu terang dan kamar sudah gelap.

Value Of Time

Tulisan kali ini lagi-lagi terinspirasi oleh malam gabut di bumi per kakaen an. He. Malam minggu yang free karena para cowok lagi keluar. Bebass haha. Tapi tetep, gabut adalah gabut.  Saya yang dapet tugas bikin selai pepaya akhirnya nyerah gara-gara keringet segede jagung yang mulai bercucuran. Saya akhirnya minta digantikan hehe.

Karena cinta-Nya adalah yang paling sempurna

Terinspirasi dari saya yang gabut dan akhirnya stalking twitter sendiri di tahun-tahun kealayan. Kemudian geli sendiri juga ngerasa berdosa sama dosa yang dulu-dulu. Ah, kenapa saya harus pernah tergelincir di zaman itu. Kenapa saya begitu bodoh dan jahiliah. Oh Allah,  ampuni saya.