Langsung ke konten utama

Cerita KKN (Mensyukuri hal kecil dalam hidup)


Cerita ini saya tulis bersamaan dengan kaki saya yang nyut-nyutan habis pulang dari air terjun, dan mata saya yang menyipit karena layar ini terlalu terang dan kamar sudah gelap.
Maklum,  tidur bersama membuat saya tidak bisa mematikan lampu semau saya. Jadi berhubung teman-teman saya sudah tidur, terpaksa saya matikan lampu. Huhu

Hari ini kami ke gisting, untuk meninjau BUMDes disana. Yaa,  kakon kami meminta untuk dibuatkan BUMDes juga disini. Yaa, semoga bisa berhasil yaa mengingat projek ini memang besar dan sedikit sulit. Hehe. Tapi tenang,  saya tidak ngeluh. Saya mungkin hanya perlu meyakinkan teman-teman agar ini berhasil. Semangat!!

Saya juga diminta menyusun Anggaran Dana Desa (ADD). Oh ya,  yang satu ini saya ingin ngeluh, tapi mungkin juga bersemangat. Karena ini bisa membuktikan keilmuan saya yang bertahun-tahun. Kapan lagi saya bisa praktik langsung. Ya kan? Oh Allah,  Yang Maha Mengetahui,  tolong ajari saya:)

Dari gisting yang tadi terasa sangat dingin di pukul 11.00, lalu ke air terjun dan balik ke Kota Agung jam 15.00 merupakan lonjakan temperatur yang besar. Karena Kogung, akronim dari kota agung,  ini nyatanya sangat lah panas. Oh saya jadi kangen es cincau depan gang kosan yang harganya dua rebuan. Yang suka saya minum kalau saya kepanasan pulang kuliah.

Saya juga jadi kangen dengan hal-hal kecil,  seperti tetangga kosan saya yang tiap pagi ribut sehingga saya tidak bisa tidur sampai siang. Saya jadi mensyukuri ada banyak pria lingsuh yang baik dan bersedia membantu ketimbang para pria di KKN yang malasnya luar biasa. Saya bersyukur punya mba upi, ayuk, punya keluarga rajino, dan semua hal menyenangkan di Lingsuh. Saya bersyukur selama ini tinggal di dekat masjid sehingga untuk solat tidak sulit apalagi ragu, saya menyesal untuk sering tidur setiap pengajian, karena sekarang,  hati saya rasanya rindu nasihat, dan saya tidak bisa mendapatkannya dengan mudah.



Saya bersyukur untuk memiliki kendaraan, saya bersyukur untuk punya lingkungan yang membuat saya selalu merasa berdosa,  saya bersyukur untuk pressure besar dari orang-orang yang kurang menyenangkan, karena dari perasaan sakit bertubi-tubi itulah kini saya bertahan dan berpikir 'ah,  saya pernah dapat yang lebih parah dari ini'

Saya bersyukur untuk adanya warung Om Imron sehingga tidak perlu jauh beli makanan. Saya bersyukur ada orang yang mau menjemput kalau pulang kemalaman, saya bersyukur punya guru-guru yang selalu membimbing. Saya bersyukur untuk tiap inci ketidakpentingan yang selama ini saya abaikan. Yaa,  saya seperti kembali ke dunia saya yang dulu. Tapi merindukan penjara saya. Dan saya, rasanya mulai mencintai lingsuh, dan bersyukur untuk setiap hal kecil yang saya dapat disana.

Oh Allah, semoga saya bisa cepat kembali kesana.
Kembali dalam lingkaran orang-orang shalih.
Kembali dalam majelis ilmu yang menenangkan.
Kembali, untuk mendoakan dia.
Dia yang hampir hilang.
Apa? Iman!
Yaa munqolibal Qulub Tsabil Qolbi ala diinik
(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku atas agama-Mu)

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…