Langsung ke konten utama

Cerita KKN (Ucapan Maaf)


Hari ke tiga puluh delapan KKN, masih dari desa Teba Bunuk yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Masih dengan tujuh orang yang berbeda karakter. Masih dengan kami yang suka diem-dieman. Masih kami yang kurang komunikasi, dan kami yang akan segera berpisah. 

Saya jadi ingat seseorang bertanya pada saya,  apakah teman saya betah dengan kelakuan saya yang biasanya aneh? Mengingat saya suka marah, ngambek, juga banyak sifat buruk lainnya. Dan jawabannya mereka betah-betah saja. Saya justru lebih sabar, lebih ngalah,  dan saya bahkan nggak pernah ngambek di kkn. Haha sebuah kekuatan yang luar biasa untuk seseorang yang ekspresif seperti saya. 

Hari-hari biasa saya suka jadi penengah, biasa diam karena malas ribut, biasa fake smile supaya tidak berlanjut keributan. Begitu terus berlangsung. Sampai pada akhir minggu kkn ini saya benar-benar kesal dan ingin ngambek. Masalah kkn yang numpuk dan saya yang mulai bosan. Saya akhirnya tidak tahan untuk ngambek. 

Masalahnya simple, terlalu bebel sampai tidak mau mengerjakan tugasnya. Terlalu ngeselin sampe ngga bisa berkata-kata. Saya yang biasanya nahan kali ini beneran kesel. Saya diem,  ngga negor, ngga senyum, apalagi ngomong. Saya cuma diem, dan ngambek adalah tingkat tertinggi marah buat saya. 

Sampai sore ini ketika saya goreng ikan di dapur sendirian, ada satu orang yang bilang 'Eh Sorry ya. Kemaren gue nyebelin'  dan kamu tau, hati saya terenyuh. Saya cuma ngangguk lalu bilang 'iya'.  Padahal hari-hari sebelumnya saya beneran dongkol. Yaa,  saya suka luluh sama kata maaf. Saya ngga bisa berkata-kata tiap ada orang yang minta maaf. Buat saya, memaafkan itu wajib ketika dia udah mengatakannya. 

Prinsip saya satu,  tiap kali saya kesulitan memaafkan orang lain, saya selalu ingat mantan saya. Bukan mengenang, hanya saja saya tau,  dia yang begitu menyakitkan saja bisa saya maafkan setelah dia mengucapkan maaf. Apalagi orang lain?  Mereka yang bahkan sedikit menyakiti saya,  masa engga saya maafin. Sekali lagi,  saya mudah luluh pada kata maaf. 

Saya jadi inget oti,  dia selalu bilang. Kamu mungkin terlihat seperti laki-laki. Tapi sebenernya kamu bener-bener perempuan. Yaa,  perkara memaafkan ini misalnya. 

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.