Langsung ke konten utama

Dibayar berapa?

Sore ini,  saya masih tidur-tiduran di kamar hotel. Masih dengan ac, selimut, juga kasur yang empuk. Masih menikmati ngulet yang jadi favorit saya, juga karena ini hari yang terakhir. Tapi dari kenguletan ini (etdah bahasa apa yak),  saya terusik dengan satu pertanyaan yang sering muncul dari mulut-mulut penasaran nan kepo diluar sana. Ya,  saya akan mencoba menjawabnya. 

Senin lalu,  saya kembali meninggalkan kuliah dan memilih mengikuti sebuah kegiatan di luar kegiatan yang berhubungan dengan akuntansi. Yaa, seperti biasa saya menolak untuk jadi mahasiswa yang normal dan biasa, saya lagi-lagi menantang presensi saya demi kegiatan yang saya gak tau faedahnya apa untuk masa depan saya. Intinya, saya cuma ingin ikut.  hehe. 
Karena saya ini sering banget pergi beginian, entah dengan meninggalkan kuliah atau engga,  entah minep atau cuma sekedar ikut kegiatan sehari, selalu ada temen yang nanyain 'emang dibayar berapa si Ai? Kok mau ikut acara begitu. Kalo gua sih, mending tidur di kosan'. Then biasanya saya cuma ber 'hehe'  ria tanpa ingin nyebutin nominalnya berapa. 
Beberapa alasan saya lebih milih diam ketimbang jawab adalah:

Pertama, 
Saya memang bukan tipe orang yang suka nyebutin berapa jumlah uang yang saya punya, yang saya dapet, atau yang jadi tabungan saya. Dalam ketidakpunyaan uang, saya biasanya diam, dan dalam keberlimpahan (ceilee) saya juga cuma diam. Dan ini berlaku untuk siapa aja, termasuk orang tua. Saya juga sebel kalo liat orang suka ngeluh berkali-kali tentang gak punya uang, ah plis,  semua orang pernah di posisi gak punya uang. Juga, sama mereka yang hobi pamer tentang uangnya. Ah elah, daripada situ cuma pamer punya uang/salary banyak, mending situ traktir orang lain makan, lebih bermanfaat dan menyenangkan. Apalagi kalo ajak saya. Haha

Kedua, 
Saya bekerja, keluar, dan sosialisai sama orang baru bukan semata karena uang, tapi karena saya memang suka. Karena suka. Saya beneran gak betah untuk tinggal lama-lama di kamar, nonton, baca buku atau hal lainnya. Memang, kadang saya me time sendirian atau istirahat kaya beruang yang lagi hibernasi, atau mengurung diri di kamar demi menamatkan film atau buku yang ada. Tapi ini ngga selalu. 
Saya senang sosialisai dengan orang baru, memperluas pertemanan, berkumpul dengan orang-orang yang berbeda, dan lainnya. Bekerja atau katakanlah begitu, buat saya adalah bermain sambil membantu orang tua. Saya bisa menikmati berkumpul dengan banyak orang, dan ditambah dengan bayaran yang cukup untuk mahasiswa kaya saya. Hihi

Saya menolak autisme dengan terus berteman dalam satu lingkaran yang sama. Bukan karena tidak setia atau mereka tidak menyenangkan. Tapi saya memang tipe yang senang loncat kesana kemari. Hihi tupai dong. Tapi tenang mas, untuk hubungan saya setia kok. (jawabnya iya dek ya mas). 

Dari kebiasaan ini, saya jadi punya banyak teman, banyak kenalan,  dari berbagai variasi umur,kebiasaan, daerah, dan hal berbeda lainnya. Saya sering kumpul sama teman blogger, aktivis kampus, penulis, atau para penyuka korea. Saya,  menyukai banyak hal itu.  Bahkan hp saya, lebih banyak menyimpan chat grup daripada chat personal. Dan ya, memang selalu begitu. Saya bahagia, dan saya ngga keberatan. 

Bagi saya bekerja adalah bermain, bekerja adalah ibadah, bekerja adalah membantu orang tua, bekerja adalah bersosialisi.  Jauh dari pertanyaan 'saya dibayar berapa'. Saya sudah menetapkan target dibawah umur 25 tahun, saya tidak akan menarget bayaran dari tiap pekerjaan. Saya rasa, asalkan itu cukup dan membuat saya senang, saya akan bersyukur. Karena ketika kita bersyukur, yakinlah Allah akan menambah dengan rezeki lainnya. 

Yunna Hotel, 
22 Maret 2018
Dalam acara Bimbingan Teknis Bagi Penulis Sejarah 2018
*kan,gak ada hubungannya sama akuntansi :) 

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Teruntuk seseorang yang namanya Tertulis di lauhil mahfuz

Ku tulis ini di Metro, Rumah sahabat ku yang kini sedang tertidur di sampingku. Sembari memeluk guling -seperti yang selalu ku lakukan, aku ingin menuliskan apa yang telah mengganggu ku belakang ini.

Garisan Qodar

Tulisan ini aku buat untuk diriku sendiri dimasa depan. Takut kalau suatu hari nanti aku patah. Takut kalau suatu hari nanti ekspektasi ku justru membuahkan masalah karena berbanding terbalik dengan realita.

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Main Kuis dapat Kuota Gratis

Hallo everybody..
Saat ini aku sedang cobain sebuah kuis berhadiah kuota gratis nih , Awalnya aku pikir ini semacam hoax karena hari gini gak mungkin ada yang gratisan kan?  Eh tapi karena aku penasaran dan udah banyak yang cobain, aku jadi penasaran juga buat ikutan. Yah, mencoba sesuatu gak ada salahnya kan.. (kalau kamu ragu ini hoax, kamu bisa langsung cuss untuk cek sendiri).