Langsung ke konten utama

Melepasmu dengan bahagia

Bengkulu, 7 Maret 2018
Dari saya yang baru saja melewati benteng,  akronim dari Bengkulu Tengah, yang baru saja makan rendang, dan sekarang masih tidur-tiduran sambil mengetik cerita nikahan ayuk selanjutnya.

Pada part ini saya bakal cerita soal perjalanan jauh saya, mulai dari keluhan jalan yang berkelok, tebengan saya yang mabuk perjalanan, hingga saya yang akhirnya bersalaman dengan seseorang yang biasanya hanya saya lihat dari foto.

Senin lalu adalah hari pertama saya kuliah, hari pertemuan dengan teman-teman selepas kkn. Hari yang saya nantikan. Hingga tiba keraguan saya di minggu sore ketika menerima coklat dari ayuk yang dia gantung di pintu kamar, coklat perpisahan yang berdampingan dengan wafer kesukaan saya. Menemukan benda itu, hati saya gundah, ragu, dan ingin mengubah keputusan. Bermodal nekat, saya berangkat ke bengkulu dengan nebeng keluarga besan ayuk. Yaa kamu tau, perjalanan kali ini pun saya pergi dengan orang-orang yang saya tidak pernah kenal sebelumnya. As alwayz.

Perjalanan sangat jauh dan saya tidak ingin menikmatinya. Yang saya tau, saya ingin ke Bengkulu dan bertemu ayuk. Hanya itu. Karena alasan itulah saya sehari minum 3 kali antimo supaya tidur dan berharap segera sampai. Namun kenyataan berkata lain, saya bahkan baru bisa menemui ayuk di malam terakhir sebelum dia menikah. Inipun berkat pertolongan Allah yang tidak henti-hentinya. (waktu itu saya ingin menangis takut tidak bisa menyaksikan akad).

Saya tiba di rumah, eh rumah kyai desa ayuk. Disambut wajah yang sudah saya kenali karena pernah melihat di foto. Wajah yang membuat saya tadinya sudah jengah karena berhenti melulu, kembali bersemangat. Wajah siapa? Ah sudah jangan dibahas.

Berlanjut ke kediaman ayuk, saya benar-benar kesal. Rasanya saya ingin memukuli ayuk. Atau memaki dia, atau setidaknya menendang tembok sebagai ekspresi marah saya. Tapi kali ini saya terhenti, saya terhenti melihat ayuk begitu bahagia, melihat ayuk begitu sumringah menyambut hari bahagianya. Wajah yang tidak pernah saya lihat sebahagia ini.

Malam kami lanjutkan dengan bercerita ini dan itu, bertumpah ruah segala sakit kami selama ini. Saya yang diam-diam menangis, dan ayuk yang tidak kuasa memendam semuanya selama ini akhirnya pecah malam itu. Saya juga memahami banyak hal, memahami bahwasannya ini semua cerita indah yang dibuat-Nya. Dan saya, tidak boleh begitu egois menghalangi semuanya. Saya, dengan ikhlas turut bahagia.


Pagi hari, saya menemani ayuk make up hingga akad, karena ayuk memang minta di dampingi. Sebuah kebahagiaan untuk saya bisa berada tepat di belakang ayuk saat akad berlangsung. Dan fyi, ini kali pertama saya lihat akad sungguhan. Oh Allah, kenapa begitu hikmad, kenapa saya begitu ingin menangis haru dan bahagia. Terlebih saat mempelai pria menyatakan akadnya secara lantang,  hati saya rasanya bergetar.

Semua berlangsung menyenangkan,  sampai pada waktunya saya harus pulang. Saya tidak tau kenapa air mata saya jatuh begitu saja dan ingin memeluk ayuk. Saya rasanya begitu sedih melepas dia. Bukan karena saya takut tidak bangun subuh, bukan pula takut tidak dimasakin lagi (fyi:saya sudah bisa masak). Rasanya hanya sedih. Dan entah kenapa.
Ayuk,  i wanna tell you this.

I love you Ayuk,
I just can't say it to you.
But if one day you find it,
I'm just hope that you know.
I just can't say.
I can prove it, but can't say.
Be happy ayuk, please be happy :)

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.