Langsung ke konten utama

Belajar Sabar Dari Mereka

source: Pinterest.com
Sabar, lima huruf penuh dengan kesulitan. Lima huruf yang sangat mudah diucapkan, Lima huruf yang begitu sulit dilakukan. S A B A R, kombinasi semuanya dalam satu kata nyatanya lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan, dan ya... Masalahnya sabar itu haruslah luas, tidak punya batas, tidak punya ujung seperti lautan luas yang tidak kita ketahui dimana asal dan dimana ujungnya.

Pun saya, manusia biasa. Manusia yang sering sekali menahan diri untuk tidak marah, untuk tidak tempramen, untuk tetap terdiam. Walaupun mungkin itu bukan keinginan saya untuk berdiam. Selama ini itu yang saya lakukan. Benci, diam. Kecewa, diam. Marah, diam. Sampai suka pun dalam diam (eh apasih). Tapi akhir-akhir ini saya sering kehilangan batas, seringkali bosan untuk diam, seringkali 'meledak' ketika sampai dititik tertentu. Saya, lelah.
Saya akhirnya sadar, saya harus belajar sabar. Belajar tenang, belajar ikhlas, belajar benar-benar sabar, bukan sekedar menahan diri, bukan sekedar diam. 

Cause U smile, I smile - Justin Bieber
Saya jadi ingat nasihat dari seorang teman hidup  kosan saya. Nasihatnya adalah tentang jadi pribadi yang lebih tenang, jadi pribadi yang tidak mudah meledak, kalimat yang baru saya pahami ternyata maksudnya untuk jadi lebih sabar.
Btw, aku udah tenang dari dulu. Aku bahkan pribadi yang tidak mudah gupek ketika banyak orang lain gupek, bahkan teman dekatku di kelas bilang, aku makhluk aneh yang paling santai dalam kuliah. Tapi kalau meurutmu aku ini meledak-ledak, so welcome to my real lyfe. Kalo kata Taylor Swift sih, I'm only me when I'm with you. Ehe. Orang yang berani bilang saya kaya macan, saya galak,suka marah, juga bilang hal ngawur lainnya. Ah, Sotau Lu.

Tapi dari kebingungan apakah saya sebenarnya tenang atau meledak, semua itu tergantung sudut pandang. Tapi btw, Thanks for that advice. Saya jadi selalu ingat itu tiap kali mau meledak. Sebuah mantra dari guru spiritual ngaji "Jadi lebih tenang ay".


Devi-Aini-Dian
Orang selanjutnya adalah dua manusia ini. Yang jilbab orange namanya Devi, akusih biasa panggil ayuk. Kalo kamu mau, kamu juga bisa panggil sama kaya aku, kali aja kalo sama kita bisa berjodoh, Nahloh .
Di post sebelumnya, aku pernah tulis tentang Dia. Sudah gak perlu lagi lah aku jelasin ya, Dulu kami tinggal seatap, sebangunan, cuma kebatas dinding. Gak kehitung berapa banyak cuap-cuap gak penting kami yang didengar tembok dingin. Atau diam-diam kami yang saling kesel dilihat sama para malaikat. Kami sering berdebat, tapi itu ngga mengurangi rasa cinta aku sedikitpun (aku nulisnya sambil muntah yuk, bayangin be cak mano).

Akhir-akhir ini saya kekurangan teman debat, kehilangan teman yang berani nantangin dan nggak asal 'enggeh' kalo gak setuju, teman yang sering saya kunciin karena sering lupa nyabut kunci dari pintu depan. Saya, kesepian. Saya jadi mikir berapa banyak hari yang dia lewati untuk menangani kekanakan saya yang kelewat batas. Atau bingungnya dia saya suka ngikik sendiri, nangis sendiri, bahkan ngomel sendiri. Ahh, kok saya banyak aibnya gini.

Dari dia saya belajar sabar, belajar menunggu. Belajar kalau diam dan sabar itu bisa menyatu. Belajar bahwa sabar itu luas dan tidak ada batas. Bahwa sabar itu tidak sama dengan menahan diri seperti yang biasa saya lakukan. Membedakan bahwa 'enggeh' dan sabar itu ada porsi dan tempatnya. Seperti belajar untuk melawan tetangga bawel macam saya.

Kalau yang satu ini, tipe penyabar yang juga menguji kesabaran. Saya sering banget nih di php in, dibuat nunggu, dibuat kezel, dan lain-lain. Padahal doi tau banget kalo aku tuu gak suka nunggu. 
Tapi yang paling the best dari orang ini adalah super lovable person, ketika kamu kenal dia, kamu benar-benar tau hatinya baik. Kamu kenal dalem, kamu lebih tau hatinya baik.(yang ini aku nulisnya ga sambil muntah, cuma mual aja dikit. huek)
Teman tukar pikiran, teman berbagi ini dan itu. Teman yang nyambung buat bahas apa aja, mulai dari akuntansi, agama, sampai jodoh. Jodoh? hahaha. Teman yang sabarr banget kalo aku lagi meledak, teman yang diem-diem aja apapun saya lakuin, dia... beneran sabar.
Belajar sabar dari dia adalah contoh yang tepat. Paling sabar deh se-lingsuh, Juga paling menguji kesabaran. Saya gak bisa jelasin seberapa baik dia, nanti kalian pada antri jadi temennya. Kan ga boleh, she is mine, MINE. hihi
Aini dan Dian, Sejiwa Tapi Tak Sama.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Cuma mual atau malah sebenernya berkaca-kaca hayo? Hmm terharu baca tulisannya. Btw itu foto jaman kapan yaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.