Langsung ke konten utama

Kemunduran yang menyiksa

Pinterest.com
Sore ini hujan, deras sekali. Sebuah senja yang menarik untuk tidur bagi mereka yang lelah. Sore yang baik untuk sekedar makan mie sambil nonton film bagi mereka yang penat. Juga mungkin suasana yang baik untuk menulis bagi seseorang yang merasa hidupnya tidak baik-baik saja. Tidak dalam keterpurukan, tapi juga tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Iya, saya sekarang butuh menulis. 

Pernah gak sih dalam hidup kita rasanya berada di titik rendah. Berada di kondisi yang gak tau mau diapain, tapi rasanya gak betah untuk tinggal. Kalau iya dan sekarang kamu sedang merasakannya, maka mari kita sekedar ngobrol berdua, lalu berpelukan karena rasanya hidupku sedang dititik itu sekarang. Titik penyesalan, titik yang membuat kufur nikmat tiap kali saya rasakan. Oh Allah, i'm tired :(

Kalau biasanya banyak sampah yang harus dikuras, perasaan ini jauh lebih mengerikan dari itu. Rasanya seperti mundur dan ingin pergi, berharap segera usai tapi nyatanya tidak juga usai. Ingin mencari pokok masalah, tapi semua rasanya baik-baik saja. Mencari penyelesaian, namun tidak juga melegakan. Biasanya menemukan beberapa makanan favorit sudah membuat saya merasa baik, kali ini rasanya tetap tidak sama. Makanan itu mengenyangkan saya, tapi tidak menenangkan. Ingin sekali rasanya berenang dan menceburkan diri ke dalam air, untuk melarutkan pikiran dan menenangkan.

Beberapa stik bakso bakar membuat saya kepedesan, ibuk-ibuk penjual jus pun buru-buru membuatkan saya jus biar saya gak kepedesan lagi, yah.. ibuknya memang baik makanya saya juga suka banget beli jus disitu. Pokoknya biaya beli jus saya sebulan bisa ngalahin beli lip cream favorit perempuan-perempuan diluar sana, tidak banyak dandan, cuma banyak jajan, Pardon me, Mas. (mulai OOT). hmm
Oke, cukup sama perjajanan saya yang sulit sekali di stop dan bikin saya kesel tiap kali nengok pengeluaran. Mari kita belajar dari hal kecil ini.
Kalau kamu kepedesan, orang lain bisa langsung tau dan bisa kasih solusi. Tapi kalau kamu depresi, orang lain gak tau. Karena kamu bisa tetap ketawa, tetep riang, tetap jadi diri kamu. Tapi, dalam dirimu keropos. Kehancuran sedikit dalam hidupmu bisa menghancurkan dirimu. Kalau tidak kamu ceritakan, orang lain tidak tau dan pasti tidak bisa kasih solusi. Ya, mungkin itu juga salah satu penyebab banyak orang bunuh diri. Dan saya, tidak kepikiran bunuh diri kok. Naudzubillahiminzaalik.
Syukurnya, saya selalu punya teman untuk bercerita. Teman untuk sekedar mencari jalan keluar atau mengingatkan saya kalau saya lagi down. Lagi dititik terendah. Lagi males, lagi mundur, atau lagi dan lagi feel depressed, Oh Allah, I'm blessed. Saya juga punya banyak pengingat yang membuat saya merasa bersalah kalau kufur nikmat.

Cerita sore ini misalnya, saat orang lain sudah memikirkan dan membantu orang lain untuk pulang dengan selamat karena hujan. Saya bahkan dengan egois ingin hujan-hujanan saja agar merasa baikan, ah betapa pemikiran anak kecil. Atau siang ini seseorang menuntut saya untuk menyemangati orang lain yang sedang down, bisa-bisanya saya egois dan lebih peduli pada perasaan yang tidak pernah menguntungkan ini. Ah Aini, come on! You better to support others, but how if you fall. Wake up! Wake up!

Seorang teman juga mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan mengingatkan saya kembali bahwa begitu banyak orang yang ingin berada di posisi saya. Berada di kampus saya, di keluarga saya, di lingkungan saya, dan saya malah tidak bersyukur. Dia juga berkata bahwa saya harus mengingat bahwa akan banyak orang bahagia dengan kesuksesan saya, terutama orang tua. Ah, Allah. kenapa saya bisa selupa ini. Baiklah, saya harus bangkit. Tidak peduli saya akan sp, saya tidak punya libur, asal saya tetap punya Allah. Allah lah yang akan membantu saya, mungkin saja ada rahasia tersembunyi nya. Oke, cukup sama nyerah-nyerahnya! It's not you!
Seperti dalam Al-Quran, Q.S Ibrahim (14) ayat 7 yang artinya:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
Dan kamu, yang juga mungkin lelah dengan putaran dunia. Mari ingat Allah banyak-banyak, stay close with beloved people, eat what you want to, caring to other, and praying for all your plan. Believe that, You're not alone and this too will pass.
Cheers,
Aini

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…