Langsung ke konten utama

Kita Butuh Orang Lain

Keluarga means Tempat pulang
Hari ini adalah satu dari sekian banyak hari melelahkan dalam hidup. Hari dimana saya bolak-balik rumah sakit untuk nemenin orang sakit. Yaa beginilah, karena saya paling berani (a.k.a paling ga punya malu).
Jadi kalau pulang ke rumah saya sering diminta ini dan itu, termasuk ke rumah sakit. Mulai dari anter bapak,  sampai jenguk paman di rumah sakit.

Saya,  yang notabene nya kalau sakit takut sama rumah sakit,  pagi ini sudah berhasil membujuk bapak pergi kesana. Ya walaupun penuh perdebatan, yaa walaupun belum ketemu dokternya, setidaknya beliau sudah berjanji mau diperiksa. Hihi,  semacam kemenangan yang besar. Sebab kemarin malam,  beliau benar-benar malas ke rumah sakit. Lucu ya,  anak yang dulu dia gendong-gendong dan dibawa berobat, kini justru berbalik memaksa dia pergi berobat. Dulu, saya yang akrab dengan obat, kini harus bisa nekenin kesehatan itu penting ke orang tua. 

Lepas dari urusan bapak,  saya pergi lagi nemenin tante yang suaminya masuk rumah sakit. Bukan penyakit parah sih, cuma butuh rawat inap 1/2 malam. Yah, Alhamdulillah. Semoga sakitnya mengangkat dosa-dosanya. Amiin
Di Rumah Sakit,  saya jadi berpikir.  Orang memang butuh orang lain. Butuh untuk menemani saat senang dan saat sedih, juga saat terpuruk seperti ini. Entah orang itu berbentuk pasangan, anak,  hingga orang tua. Saya jadi mengerti alasan kenapa orang butuh menikah. Bukan untuk tren, bukan juga hanya tentang ibadah, tapi juga tentang kehidupan masa mendatang. Kehidupan panjang untuk saling berjalan, untuk saling menopang satu sama lain. 

Keuarga adalah tempat kita pulang, tempat satu-satunya yang akan menerima kita tidak peduli kita berhasil atau gagal. Tempat yang akan menerima kita dalam keadaan sedih dan senang. Tempat bersandar paling abadi yang akan selalu membantu kita. Tempat bersemayam berbagai bentuk cinta. 

Tidak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan kita terus berjalan sendirian. Saya, masih muda, mungkin masih suka jalan sendirian, main kesana kesini. Tetep, sendiri. Hihi. Tapi suatu saat saya akan menyambut tangan lain. Menyambut orang yang dengannya saya ingin ibadah seumur hidup, saya ingin menjalani kehidupan dunia bersama, yang dengannya saya akan merubah beberapa rencana hingga menghapus beberapa yang mengganggu. Yang bersamanya,  saya akan menukar impian saya demi kami tetap bersama. Saya, akan bersama-sama dengannya di Surga Allah. Yaa InsyaAllah.. Jika Allah memberikan umur panjang, jika Allah mengizinkan, dan semoga semuanya menyenangkan,  dunia dan akhirat. Aamiin :) 

Kalianda, April 2018

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.