Langsung ke konten utama

All is well, Just don't come back


Di dunia ini, setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang tenang, damai, dan tanpa gangguan. Kehidupan yang adem anteng ayem rasanya lebih daripada cukup untuk membuat keseharian kita lebih enjoyable untuk dinikmati. Juga hidup yang tanpa perasaan roller coaster, a.k.a naik turun secara ekstrim. Hidup damai, tenang, tanpa bahagia berlebihan atau sedih berlebihan, yaa begitulah kehidupan saya beberapa tahun belakangan. Hanya syukur, syukur lagi, syukur terus.
Sampai kemudian notifikasi di LinkedIn saya, @Ainikolbiana terusik dengan permintaan konektivitas dari orang yang saya kenal betul siapa. Saya diam, tidak mau gegabah buru-buru ambil tindakan. Saya menjalani hari sembari menimbang-nimbang harus saya apakan permintaan itu.  Diterima kah? atau ditolak saja? Toh bagaimanapun juga ini hanya sekedar dunia maya kan?. Butuh beberapa hari untuk kemudian memutuskan harus saya apakan permintaan ini.

Tidak berhenti disitu, platform twitter saya yang juga damai-damai aja tanpa cuitan tiap hari (walaupun saya buka hampir tiap hari), akhirnya terganggu aktivitas "love" juga dari orang yang beberapa hari lalu mampir di LinkedIn. Saya cuma menghela nafas, Oh Hidupku yang damai kenapa harus terusik dengan hal sereceh ini. 

Saya tidak lagi menanggapi hal semacam ini seperti anak kecil, semisal mengganti nomor, mengganti akun sosial media, atau beragam hal merugikan lainnya untuk menghindari hal semacam ini. Saya mendewasa bersama waktu. Tapi, untuk urusan membatasi komunikasi, saya masih perlu melakukannya mengingat saya tidak tahan untuk sekedar dimaki-maki perihal tidak penting semacam ini. (Kamu masih ingat kan tentunya, He). Dan kamu, tidak sepenting itu sampai membuat saya dimaki-maki serendah itu. 

Awalnya saya memblock dan menolak semua sosial media, lalu kemudian saya berfikir lagi. Loh, All is well kan, So guess what? Bukan masalah kan selama dia hanya melihat dan memastikan saya bahagia. Memastikan saya baik-baik saja. Juga mungkin melihat sedang bersama siapa "hati" saya sekarang. Dan saya yakin, kamu beberapa kali mampir di blog ini. Itu semua sesukamu, saya tidak keberatan. Hanya saja, jangan ganggu lagi dan jangan mencoba menghubungi lebih. Saya sudah baik-baik saja. 

Saya ingat betul bagaimana Allah menyakiti saya lewat kamu karena perasaan saya yang berlebihan pada makhluknya beberapa tahun lalu. Saya tau sakitnya berharap pada manusia. Saya tidak ingin lagi hal semacam ini, sebab itu saya lebih suka kehidupan damai ini. Hanyu bersyukur dan menjalani takdir yang ditulis-Nya.

Doa saya hanya: semoga kamu bahagia. Jauh lebih bahagia dari waktu-waktu kita. Supaya tidak lagi kamu datangi saya untuk meminta perasaan yang sama, Karena hal itu tidak lagi ada. Dan tidak akan pernah ada lagi. Semoga dia mampu membahagiakanmu dan memahami setiap tetes keringat jerih payahmu menuju hal yang sekarang kamu dapat. Semua uang, seragam, pangkat, dan kebahagiaan yang kamu miliki sekarang, adalah rezeki dari-Nya. Dan itu cukup untuk membayar setiap rasa sakit yang kamu alami. Saya memahami prosesmu, tapi tidak ingin menemanimu di puncak. Saya senang menyemangatimu ketika mendaki, Sayangnya kamu menyambut tangan lain di puncak, dan itu selalu terasa menyakitkan.
Tapi tidak apa-apa. Maa Qodarullah kan?
Saya ikhlas untuk kamu. Dan ikhlas untuk hidup saya sekarang. Sekalipun kadang semua seperti menakuti saya untuk memulai yang baru suatu hari nanti, Saya tetap percaya bahwa tidak semua orang akan memilih tangan lain seperti yang pernah kamu lakukan.

Saya telah bahagia. Walaupun tidak seperti kamu yang aktif memamerkan kehidupan bahagiamu dengan "dia", saya justru terlihat diam-diam saja. Tidak apa kan? toh kamupun tau saya bukan orang yang senang memamerkan hal semacam itu ke publik. Nanti saja, Nanti saya beri tahu. Bersama orang yang bersedia saya temani seumur hidupnya, bersedia saya dukung dan mendukung saya. Bersedia untuk beribadah menuju surga-Nya, bersedia untuk susah-senang sama-sama. Dan semoga kamu juga menemukannya, (walaupun bukan saya).

Terakhir saya mau bilang,
(Saya tidak tau kapan kamu akan membaca ini) ..
Saya sudah bahagia, dan saya harap kamu juga begitu.
Saya tidak apa-apa, semua sudah baik-baik saja.
Jadi, bersikaplah seolah semua sudah terobati oleh waktu.
Jangan datang lagi, jangan berharap lagi,
Karena 'kita', sudah tidak pernah ada lagi.

Satu-satunya hal yang saya ingin dengar hanyalah permintaan maaf yang begitu tulus. Permintaan maaf yang mengobati semua rasa sakit. Tidak peduli kapan, karena untuk maaf, tidak pernah ada kata terlambat.
Sekalipun tidak pernah kamu lakukan, saya harap saya mampu memaafkanmu bersama jalannya waktu.

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.