Langsung ke konten utama

Nikah? Kapan Ya?


Sebagai anak umur dua puluhan, yang udah semester akhir. Pertanyaan kapan nikah dan kapan lulus udah pasti hangat banget di telinga. Walaupun nggak harus kasih tanggapan serius juga sih karena yang nanya juga belum pasti serius. Cuma bercanda (yang nyakitin) khas orang Indonesia. But still, pertanyaan ini harus dijawab secantik dan selihai mungkin agar kita dapat tersenyum bebas dan terkesan enggak tertekan apalagi sebel sama pertanyaan ini.

Dipikirin atau cuma sekilas aja, hal satu ini emang udah (kaya) jadi obrolan wajib dikalangan perempuan seusia saya, oke, still dua puluhan sih. Tapi pernah denger kan kalau perempuan tuh pemikirannya lebih tua dua tahun diatas dia. Yaa berarti perempuan yang 20 udah berpikir kaya perempuan 22, dan sebagainya. Baiklah, kali ini akan sedikit membongkar sedikit pikiran saya yang mulai terusik dengan hal semacam ini.

Temen-temen sekeliling gua, akhir-akhir ini tuh kaya buat campaign tentang bahas nikah diumur segini adalah hal yang normal. Dan sebagai perempuan yang normal dan juga ingin menikah, gua juga akan membiasakan diri untuk membahas ini dan membagi pemikiran gua tentang hal ini. dan sekarang, mungkin harus ditulis juga biar agak lega.

Pertama, Pendapat tentang menikah
Setiap orang pasti pengennya nikah sekali seumur hidup kan, Iya kan?. So do I, gua juga gitu. Dan I'm surely believe kalau nikah tuh gak segampang buka kulit kuaci untuk dimakan isinya, tapi juga gak sesusah ngeluarin batu ginjal dari tubuh. Gak gampang, tapi juga gak sulit-sulit amat (kayanya).
Tapi menurut gua, menikah adalah kesiapan, menikah adalah menemukan dan persetujuan untuk kemudian jalan bareng-bareng. Menikah adalah tentang mengarungi samudra sama-sama, melintasi langit juga sama-sama.

Kalau kata Gita Savitri, adalah tentang menjadi pilot dan co pilot. Dan yaa.. I said yes for this one.
Kita nggak akan memungkiri kalau laki-laki akan tetap jadi imam dan tetap memimpin. Tapi, menurut gua menikah adalah tentang kerjasama kita bersama pasangan. Tentang dia yang akan mendengarkan dan akan kita dengarkan. Tentang hari-hari penuh dengan cerita receh yang akan kita bagi sama-sama. Tentang tangis, tawa, sakit, sehat, susah, senang, yang akan kita tanggung berdua.

Kedua, Kapan pasnya menikah
Ada beberapa orang yang nikah sebelum dua puluh dan hidupnya bahagia. Ada yang sampai umur tiga puluh baru nikah juga tetap bahagia. Jadi umur adalah tentang kesiapan, tentang kemauan, juga yang pasti tentang qodar yang udah dituliskan. Oke, nikah juga tentang menyempurnakan agama buat muslim kaya saya.

Nikah akan menjaga kita katanya, yaa tanpa tau persis apa yang dijaga. Tapi saya percaya kok, ada nilai tersendiri dan pemikiran tiap pribadi orang sampai kemudian dia memutuskan untuk menikah.
Tapi kalau buru-buru nikah cuma biar nggak berzina, rasanya nggak deh. Ada begitu banyak hal yang bisa mengalihkan kita dan menjaga kita. Misalnya sibuk dengan pendidikan, karir, atau menghapal Al-Quran bagi muslim. There are too much choices..

Jadi, tentang kapan pasnya nikah, semua kembali ke pribadi masing-masing. Saya? mungkin sampai menemukan orang yang tepat, di waktu yang tepat, untuk membangun perasaan yang tepat. Gitu.
Walaupun nggak bisa saya pungkiri kalau perempuan pasti punya time limit nya untuk menikah, buat saya menikah yaa diwaktu yang sudah ditulis di kitab lauhil mahfuz. Tidak akan mundur walau sedetik kan?. You just need to believe that, babe!


Ketiga, Ideal type for married with
Tipe ideal tiap orang pasti beda-beda lah yaa. Ada yang mencantumkan mapan, rupawan, cerdas, atau beriman, yaahh too much keinginan. Yaa gak sih?
Tapi yang pasti adalah, setiap perempuan sih pasti pengennya sama yang mengerti dia baik dan buruknya. Bersedia menerima dan kemudian mengubah menjadi lebih baik dengan cara yang baik.

Mungkin beberapa akan bilang "ganteng". Tapi buat saya, selama nggak malu-maluin dan masih sedap dipandang, it doesn't matter sih. Yaa cakep muka buat apasii kalau ngga cakep atii? Ceunah!
Juga mungkin.baik-baiknya pilot adalah yang mempu bangun komunikasi sama co pilotnya. Tentang komunikasi kemana pesawat akan dibawa, dengan kecepatan seberapa, dan keselamatan penumpangnya juga gak kalah penting. Intinya adalah, orang yang mampu kita ajak kerjasama seumur hidup. (smile)

Intinya yang sederhana seperti ini.

Keempat, Posisi pas untuk menikah
Dari beberapa pernikahan yang udah gua saksiin. Kayanya akan lebih tepat saat posisi udah sama-sama settle, yaa dalam artian udah sama-sama punya modal hidup. Okelah, kita akan berjuang mencapai angka 10. Tapi engga sama-sama dari nol, mungkin si doi bawa 2 dan gua akan bawa 1, jadi untuk nyampe titik 10, kita akan sama-sama berjuang dari angka 3. Selain lebih mudah buat kita, itu juga bikin orang tua lebih tenang. Kalau dipikir-pikir, orang tua mana sih yang mau liat anaknya susah setelah nikah? nggak ada kan?.

Cuma mungkin nggak harus sampai settle banget sih. Karena walaupun belum nikah, gua akan percaya kalau naik bareng-bareng akan kerasa lebih seru. Jadi bakal lebih seru untuk nengok kebelakang bareng dan melihat sudah sejauh apa kita survive bareng-bareng. Ceilahh..

Kelima, bagaimana harapan soal pernikahan
Mungkin gua akan bilang sama pria-pria diluar sana untuk "jangan datang terlambat". Jangan bilang menyesal setelah dia diambil orang lain, karena apa yaa.. Useless aja sih, dan menyakitkan untuk mendengar segala sesuatu yang terlambat. Inget aja bahwa setiap perempuan punya batas waktu, punya tekanan dari segala sudut, dan coba belajar untuk ada diposisi itu.
Jangan terlalu banyak bilang "Ini demi masa depan kita" tapi kalian nggak sadar kalau kehadiran kalian di "masa sekarang" itu jauh lebih penting. Jangan lelah berjuang, tapi juga jangan keasikan berjuang sampai lupa dan kemudian yang kamu perjuangin diambil orang. Gitu.

Terakhir, motivasi nulis ini sebenernya karena jenuh sama topik ini tapi nggak bisa menghindar.
Abis ini mungkin banyak statement kaya..
Waduh si aini dah mau nikah, atau malah pemikiran muncul semacam waduh aini kagak pingin nikah. Atau pradigma positif negatif lainnya. Yaa sebenernya nulis karena pingin ditulis aja. Dan juga pingin bilang:

Ini opini pribadi.

Tidak setuju? silahkan. Setuju? silahkan. Toh saya juga manusia biasa yang banyak salah. Kalau mau yang udah pasti bener, sok atuh belajar dari Al-Quran sama Hadist aja. hehee.

Just dunno when it will be. Dan tulisan ini cuma garis besar aja. Mengambil dari banyak sumber ahli dan juga riset langsung. Karena lebih mudah mencari responden untuk tulisan ini daripada mencari pilot yang bersedia diajak kerjasama. Bukankah begitu?

Dari saya,
Yang suatu saat akan menikah.
*maafkeun kadang suka pakai "saya" atau labil pakai "gua"
Hampura nyak..

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.