Langsung ke konten utama

Selalu ada alasan untuk pergi, pun untuk tinggal


Hari ini adalah satu dari bagian hari-hari hectic saya sebagai mahasiswa yang 'sok sibuk'. Mulai dari kampus kami yang sudah mulai UAS, mengerjakan mini skripsi saya yang baru kelar dini hari tadi, saya yang kurang tidur, mengurusi urusan rumit, silaturahim ke rumah teman, juga makan di mekdi dapat traktiran dari kakak tingkat, Oh Alhamdulillah.

Pertama saya mau bilang Alhamdulillahi Jazakaulahu khoiro untuk traktiran buat saya dan teman-teman. Maaf kalau saya makannya ternyata paling banyak, hehe. Karena selalu ada dua kondisi saya ingin makan, saat lapar dan saat kesal. Nah untuk alasan kesal ini, saya biasanya makan banyak dan bentuknya bukan nasi, alias jajan. Ini juga yang membuat uang bulanan saya akhir-akhir ini jadi kurang karena saya sering kesal dan jadi ingin banyak jajan. Jadi untuk waktu selanjutnya, make sure kamu ajak makannya pas saya gak lagi kesal, percayalah, saya gak sedoyan itu untuk makan.

Kedua saya mungkin akan mengungkapkan kekesalan ini walaupun ini sudah pukul sebelas malam. Kekesalan yang membuat saya kecewa bahkan sampai ingin nangis, saya hanya tidak mengerti dengan semua ini.

Bagaimana mungkin, saya yang (katanya) cuek ini sampai sebegitu mengurusinya orang lain. Sebegitu peduli dan segitu berjuangnya. Padahal saya juga gak naksir atau ada perasaan berlebih sama mereka. Hanya ingin membantu, hanya ingin semuanya kembali semula.

Saya dan teman saya (yang baik hatinya), ditengah kesibukan dan ke-stres-an kami karena sedang ujian harus berbagi waktu istirahat untuk sesuatu yang ternyata jalan buntu. Kami telah mengupayakan terlalu jauh, terlalu lelah, dan untuk pertama kalinya saya katakan "saya kecewa". Oke, mungkin kami ini adalah dua makhluk yang terlihat tidak mau bergabung dengan yang lain. Tapi percayalah, disela-sela kami bersama selalu ada pemikiran kami untuk memcahkan masalah-masalah yang ada. Bahkan kadang, walaupun itu bukan masalah kami. So do you still thinking that we don't care?.

Untuk setiap harinya, saya jadi semakin yakin untuk pergi. Semakin mempercepat alasan-alasan lain untuk pergi. Semakin mempersiapkan diri untuk berlari. Saya hanya merasa, ini bukan lagi rumah yang dulu. Rumah yang selalu membuat saya ingin pulang. Rumah yang di dalamnya ada keluarga saya. Ini bukan rumah, bukan lagi terasa seperti rumah.

Semua orang rasanya bersiap dengan kopernya masing-masing. Beberapa membawa orang terkasih, beberapa lagi hanya membawa kenangan indah untuk dikenang. Saya? saya hanya satu dari mereka yang membungkus semua kenangan sembari mencari bekal untuk tinggal di tempat yang baru nanti.

Sakit rasanya mengingat saya pernah buat sekuel tentang rumah ini, cerita-cerita bahagia kami, penerimaan mereka terhadap saya, bagaimana mereka mengubah saya, tawa bahagia, juga lelah-letih kami bersama. Sekali lagi, semuanya akan saya bungkus sebagai kenangan.

Hati saya terus meminta saya tinggal dan seolah melupakan bekal. Namun rasanya hari demi hari saya semakin tidak menemukan alasan untuk tinggal. Semua orang rasanya berbeda, semua orang rasanya berubah, jadi tidak peduli, jadi sibuk diri sendiri, dan tidak ada lagi yang mau mengurusi.
Saya? hanya akan mengikuti ritme kalian. Semoga kalian bahagia~

Saya, yang punya kenangan indah bersama kalian.
Kejora:)

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.