Langsung ke konten utama

Untuk teman perempuan ku


Tulisan ini, akan disponsori oleh cerita beberapa teman. Perempuan-perempuan yang sudah dipanggil ke rumah calon mertua. Calon mertua? Haha. Bagaimana bisa disebut calon mertua sedang dia saja belum melamar. Sorry to say about this, but please stop to calling his mom 'calon mertua'  because your relationship can break anytime. He isn't already married you right?


Pertama,  saya akan menyampaikan sedikit poin saya untuk ibu-ibu diluar sana. Yang mungkin juga salah satu ibumu, mas.

Ibuk, tolong jangan terlalu ramah pada kami.
Ibuk, kami tidak pernah tahu niatan ibuk. Apakah ibuk berniat tulus karena berniat menjadikan kami menantu, atau ibuk hanya berniat untuk menilai kami lalu memutuskan apakah kami pantas untuk anak laki-laki ibuk yang sangat kami cintai itu.
Ibuk, hati ini tidak sampai tega untuk bernegatif thinking ria dengan kebaikan ibu. Yang kami mau tau dan yang hanya kami camkan dalam hati, ibuk menyukai kami, dan itu selalu berarti lampu hijau. Ibuk, hanya itu yang selalu membuat kami senang.

Ibuk, tahukah ibuk bahwa kami bercerita dengan sahabat kami bahwa ibu memanggil kami untuk berkunjung ke rumah ibu, iya, rumah yang selalu kami bayangkan, tempat laki-laki yang kami cintai itu tumbuh.
Tahukah ibuk bahwa wajah kami bisa memerah karena terlalu bahagia mendapat panggilan itu, kami rasanya ingin berteriak sekencangnya karena merasa mendapat izin mencintai anak ibu, selamanya.
Sekali lagi, tanpa ada pemikiran negatif kami...
Kami juga tidak pernah memikirkan bahwa ibuk juga mungkin memperlakukan perempuan lain seperti itu. Karena jika kami memikirkan nya, itu hanya akan membuat kami sakit hati dan patah semangat..

Ibuk, jangan bukakan kami pintu yang semu. Jangan seolah membuka sesuatu yang tidak berniat kau beli. Jangan buk, jangan.
Aku memang bukan seorang ibu, yang harus menilai bagaimana yang baik untuk anak laki-laki nya. Tapi buk, sebagai perempuan, ku katakan ini karena kami di era ini,  sangat bahagia untuk hanya mendapat restu yang (mungkin)  semu itu.


Kedua, saya akan menyampaikan padamu, mas.

Mas, jangan bawa kami ke rumah mu, mengenalkan ke orang tua mu, seolah kamu akan melamar ku esok hari. Jangan mengenalkan aku ke mereka seolah aku adalah wanita seumur hidupmu. Jangan bawa kami, menemani keluargamu, jika tidak kamu segerakan niat melamar itu. Kamu tidak pernah tau, seberapa sakit aku, saat aku tau bahwa hal ini mungkin hal biasa buatmu, bahwa hal ini adalah normal, dan aku yang menganggap nya spesial. Adalah sebuah kesakitan luar biasa untuk menerima perpisahan setelah dekat dengan semua bagian keluarga mu itu. Jangan mas.
Jangan, jangan lakukan padaku, pun pada perempuan lain. Kita tidak tau dimana hati kita berlabuh untuk selamanya kan. Bisa saja itu aku, atau mungkin bukan aku.

Ketiga, untuk temanku para perempuan diluar sana.

Hallo, temanku
Biar aku menyapamu dalam tulisan. Sebab aku takut ini begitu melukaimu ketika aku mengatakannya secara langsung.
Temanku, jika dia atau ibunya meminta mu untuk menemui mereka.. Percayalah, bahwa itu mungkin adalah sebuah waktu untuk menilaimu. Bukan lampu hijau.
Ketika ibunya baik kepadamu, ingatlah bahwa mungkin dia ibu yang baik yang memperlakukan semua anak perempuan, bukan hanya spesial ke dirimu.
Jika keluarga nya sangat menyenangkan, berdoalah bahwa kamu akan selamanya disana. Bukan sebagai seseorang yang dikenalkan, tapi seseorang yang mereka kenal dan lekat di hati mereka.

Temanku, ada beberapa perbuatan jahat kaum laki-laki. Tapi sebagian sakit itu juga berasal dari diri kita sendiri. Karena diri kita yang sensitif ini, terlalu perasa, terlalu sulit menggunakan logika. Terlalu berpikiran positif tanpa berpikiran bahwa ada kutub negatif yang harus kita terima. Temanku, mintalah dia melamar. Buatlah dia mengikat janjinya.
Sebab setinggi apapun usahanya, tetap tidak ada artinya jika kamu bukan pelabuhan akhirnya.

Meskipun iya menyelami lautan terdalam, mendaki gunung tertinggi lalu menceburkan diri kedalam lava gunung, untuk membuktikan cintanya, percayalah satu-satunya bukti cinta yang berarti buatmu adalah melamar. Tanpa itu, semua nya tidak berarti.

Carilah pria, yang sibuk untuk membuktikan. Bukan sibuk meyakinkanmu.
Carilah dia yang usahanya penuh, bukan bualan sambil bersimpuh
Carilah dia, yang memintamu kepada orang tuamu.
Menjabat tangan walimu dihari pernikahan
Mengikat janjinya untuk menjadi rekan kerjasamamu
Dia yang bekerja keras untuk kebahagiaan bersama seumur hidup
Dia yang bersamanya kamu akan menikmati roller coaster kehidupan
Dia yang bersamanya, kamu bersedia setia~

(Dari aku, yang belum mau diajak kerumah sebelum sah) 

Komentar

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.