Langsung ke konten utama

#4 Clara's Diary : How Could It Be

*Clara POV

Aku berjalan keluar kelas, membuka surel yang baru kuterima. Sebuah project yang kukirimkan minggu lalu ternyata mendapat respon yang baik. Aku dinyatakan lolos dalam penelitian itu. Siapa sangka, hal iseng yang kubuat sembari iseng di perpustakaan sambil memperhatikan Mr. Sparkling membuahkan hasil. Ah, aku harus segera ke ruang guru untuk segera berkonsultasi.


Aku loncat kegirangan, diiringi dengan rasa penasaran dua sahabat baikku. Rama dan Citra. Aku segera berlari ke ruang guru setelah menjelaskan ke mereka mengenai kabar gembira ini. Tidak butuh waktu lama, aku telah berada di ruang guru. Dan siapa sangka, seseorang ada disana, Iya, Seorang dengan mata berbinar itu sedang berbicara dengan guruku. Tidak sanggup untuk menatap, akhirnya aku memutuskan balik badan, tapi siapa sangka, guruku justru telah melihatku dan memanggilku.

Dan, disinilah aku sekarang. Di perpustakaan bersama orang yang biasanya hanya kulihat dari kejauhan, dia, seorang yang kuceritakan sebelumnya. Orang ini sekarang didepanku. Berkat Tuhan, melalui Pak Joko yang menyarankan dia untuk ikut dalam penelitianku. Kau tahu kan dia suka membaca buku biologi? Nah, itu jugalah topik penelitianku kali ini. Dan sebagai siswa yang pandai di bidang itu, Pak Joko meminta dia untuk membimbingku. Ah, sebuah mimpi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Dia tiba-tiba berdiri, mengambil sesuatu dari tasnya. Yah, Sebuah cupcake coklat dimakannya. Jangan tanya aku, aku pasti bengong dan tampak sangat bodoh. Melihatku seperti itu, dia tiba-tiba mengulurkan tangannya ke hadapanku, dan bilang "Mau gak?". Oh Tuhan, jantungku rasanya copot dan berpindah tempat, akal warasku berubah, aku malah menolak dan menunduk malu. Mungkin juga mukaku memerah seketika. Tidak!! Kenapa ini terjadi sekarang.

Bel masuk berbunyi, kususun buku yang dihadapan kami. Dan tidak segan dia langsung membawanya.Aku rasanya tidak kuasa. Aku malah berjalan dibelakangnya. Dia berjalan disisiku, bukannya senang, jantungku malah semakin tidak karuan. Ah, kenapa jarak perpustakaan dan kelasku jadi terasa sejauh ini.

Diletakkannya buku itu di mejaku. Rama dan Citra bingung siapakah orang ini. Yah, yang mereka tau harusnya aku ke ruang guru. Tapi kenapa sekarang aku malah bersama dia dan membawa banyak buku. Tanpa ragu, aku tersenyum dan berkata pada mereka bahwa akan kujelaskan siapa dia. Sebelum pergi, dia tersenyum dan mengatakan "Makasih Ra". Loh tunggu? bukankah aku yang harusnya berterimakasih?

Oh Tuhan, aku harap project ini akan berlangsung selamanya agar aku bisa lebih lama bersamanya. Oh Tuhan, kabulkan doaku..

Kuambil ponsel dan headset ku, sebuah lagu kucari dan langsung ku putar..
You're Still The One-Shania Twain

Cerita sebelumnya:
https://www.ainikolbiana.com/2018/07/claras-diary-mr-sparkling-eyes.html

Komentar

  1. Aiii, km g salah nyebut Radit di sini? Bukannya Rama ya?

    And also, heyyyyyy, bring back the mysterious Radit. Jajajaja

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Maaf, aku (bukan) wanita idaman

Assalamualaikum,
Mengawali tahun yang baik ini aku akan mulai lagi mengisi blog ini. Kedepannya, aku ingin memakai konsep lebih islami dalam penulisanku, yah aku mulai dengan pembukaan yang mengucapkan salam yang penuh dengan doa kebaikan itu hehe.

Titipan dari masa lalu

Selalu ada hari, dimana rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Ke tiga tahunyang lalu. Hari dimana harusnya aku tidak pergi kesana, tidak menemuimu, dan atau tidak melihat langsung jika kamu pada hari itu menemuinya, dia yang sudah beberapa bulan sebelumnya aku stalking setengah mati. Dia yang kepadanya hatimu berlabuh untuk pertama kali.

#5 Clara's Diary : Does he feels the same

*Clara POV

Bruuuk...
Tiba-tiba sebuah bola basket mengenai kepalanya. Yang ku rasakan waktu itu hanyalah pusing, dan penglihatanku sedikit buram. Tanganku mencoba untuk berpegangan ke tiang yang berada di dekatku. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenal. Oh bukan, sesorang yang aku benci tepatnya. Iya, Dia Radit. Kapten basket yang menjadi idola di sekolahku sekaligus menjadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini. Pusing yang tadi ku rasakan, kini rasanya sampai ulu hati, ingin rasanya kuambil bola itu dan melempar tepat di depan wajahnya.

Nikah setelah lulus? Gimana ya

Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.