Langsung ke konten utama

Jika Aku Menikah


Malam ini adalah satu malam ditengah perjuangan saya bersama si manis Skripsweet, malam di kampung, bersama suara jangkrik dan dingin malam yang menusuk. Juga malam yang harus saya hadapi karena untuk kesekian kali saya merasa mual untuk membaca tulisan-tulisan di file itu. Sangking tidak ngerti, tapi berusaha untuk jatuh cinta. Yah, sekarang sudah tumbuh sedikit cinta, saya jadi semakin ingin tau tentang dia, ingin tau masalahnya dan cara untuk menyelesaikannya. Maka benar lah kata kakak-kakak tingkat saya, bahwa kita harus mencintai judul yang kita ambil, karena kita akan selalu membahasnya, sampai paham, sampai selesai, sampai gelar itu berderet di belakang nama kita. Bukankah menjadi indah apabila segera : Aini Kolbiana, S.Ak. (Amin).


Ditengah kelelahan itu, saya menemukan buku lama saya (Buku USM STAN). Buku yang dulu saya berusaha pahami setengah mati. Sampai berkorban waktu, pikiran, materi, sampai perasaan. Dulu, waktu saya berusia belasan, ternyata saya pernah segila itu dalam mencintai sesuatu. Sekeras itu mengupayakan sesuatu. Dan, sejatuh cinta itu. Heran! Dan seandainya saya punya energi yang sama seperti dulu untuk mencintai skripsi ini, pastinya ini akan terasa lebih mudah untuk diselesaikan. Sayangnya, hati saya tidak mau lagi diajak berlari sekencang itu.

Berhubung saya sudah tidak remaja lagi, saya jadi memikirkan sesuatu. Dan seperti biasa, pasti sesuatu yang sangat jauh untuk dipikirkan, tapi tetap saja masuk dalam pikiran saya. Ah, Pemikir!. Saya berpikir untuk bagaimana si dia nanti. Dia yang saya tidak tau seperti apa. Teman dekat saya, atau teman yang saya juga tidak tau dari mana tiba-tiba jadi teman hidup. Yah, semua masih jadi rahasia.

Namun, jika seandainya aku menikah..
Aku ingin dibersamakan dengan seseorang yang hatinya sabar. Tidak terbesit kemarahan, mulutnya tidak mengeluarkan bentakan, dan ucapannya selalu menenangkan.
Aku ingin dibersamakan dengan pekerja keras yang hidupnya sederhana. Sebagaimana aku mencintai banyak bagian dari kesederhanaan. Yang bersamanya hidup ini selalu cukup dengan berbagai kemampuan dan bukan berambisi pada keinginan.
Aku ingin bersama dia yang mampu mengajakku dalam kebaikan, aku taat padanya tanpa paksaan, dia menyuruhku tanpa kekerasan. Aku, ingin kehidupan damai penuh kebahagiaan.
Aku ingin bersama dia yang saat susah saling menguatkan, saat senang saling bergandengan tanpa meninggalkan.

Jika aku menikah..
Aku ingin bersama dia yang mengerti tiap tapak jerih payahku
Yang bersamanya kami saling tumbuh
Aku ingin bersama dia yang kepandaiannya aku bersedia mengisi bagian kosong otak dan hatiku
Yang bersamanya pengetahuanku bertambah tanpa aku berpura-pura bodoh
Dia yang pemahaman terhadap agama Allah melebihi aku
Yang menggandeng dan menuntunku saat aku tersesat di hiruk pikuk kehidupan

Jika aku menikah..
Aku ingin bersama orang yang mencintai segenap baik-buruk dan anehnya hidupku
Bersama dia yang menerima kekuranganku, dan aku menerima kekurangannya
Yang bersama dia kami saling mengingatkan dalam kebaikan
Yang aku tau, bersamanya pintu surga terasa lebih dekat

Assalamualaikum
Dari aku, perempuan 21 tahun yang sudah tidak bisa dikatakan remaja lagi
Yang malu dengan semua kelakuan alaynya tapi masih suka rindu masa itu
Dari aku, yang sukanya membaca buku dan membayangkan seperti apa dirimu
Yang merasa berdosa dengan perbuatan buruknya di masa lalu
Dari aku, yang mungkin suatu saat nanti malu
Kala kamu menemukan tulisan ini dan membacanya di depanku
Dari aku, yang menunggu kamu
Tidak perlu terburu-buru, karena semua sudah ditakdirkan Sang Pemilik Waktu...
Tenang, aku menguat bersama kumpulan doa dan tumpukan rindu
Semoga tempat yang tepat, keadaan yang tepat, dan perasaan yang tepat dapat menemukan titik temu...

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Sebuah Tujuan : Alhamdulillah, I did it!

Kutulis ini di sebuah kafe favoritku, bukan kafe sih, sebuah kedai yang menjual aneka rasa susu sapi. Tempat me time favorit saya sedari kuliah. Kutulis ini dengan segala macam perasaan, terlebih perasaan takut lupa,jadi ku kenang saja sekarang ya.

Sebuah Tujuan: We will fight!

"Hari ini hari terakhir" , Kata Ilham.

Dan yep, sukses membuat hatiku senang karena pada akhirnya aku memenuhi janji pada diri sendiri untuk tetap bertahan hingga akhir bulan. Ditengah-tengah keinginan untuk menyerah. Ditengah rasa kebodohan ku yang keral kali menyiksa. Ditiap hembusan syaitan yang selalu menggoda dari arah mana saja. Alhamdulillah, Laa Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Aku bersyukur pada Allah yang selalu menguatkanku, mengizinkanku untuk sampai pada titik ini.

Esok aku akan pulang. Pamit, dan minta uang jajan tentunya hehe. Untuk berangkat ke Kediri.

Aku tidak tau persis bagaimana Kediri, aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku sejauh itu. Tidak pernah bahkan kubayangkan diriku akan kesana. Sungguh Allah selalu menunjukkan sifat Maha Baik nya padaku yang tidak akan bisa kuhitung nikmatnya.

Aku sampai pada titik ini saja, aku sudah bersyukur. Dan rasa syukur ini akan aku wujudkan dengan kesemangatan ku melanjutkan tahap selanjutnya. Semoga aku tidak men…

Main Kuis dapat Kuota Gratis

Hallo everybody..
Saat ini aku sedang cobain sebuah kuis berhadiah kuota gratis nih , Awalnya aku pikir ini semacam hoax karena hari gini gak mungkin ada yang gratisan kan?  Eh tapi karena aku penasaran dan udah banyak yang cobain, aku jadi penasaran juga buat ikutan. Yah, mencoba sesuatu gak ada salahnya kan.. (kalau kamu ragu ini hoax, kamu bisa langsung cuss untuk cek sendiri).

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…