Langsung ke konten utama

Hallo, I'm 21 Years Old

Ting tung..
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel saya malam ini. Seorang teman kelas yang tidak pernah dekat dengan saya tiba-tiba menghubungi. Saya masih positif thinking, kalau-kalau ternyata dia butuh penting, karena kalau tidak buat apa chat saya segala, ngobrol sama saya saja dia sepertinya enggan. Dan ternyata isinya..

"Ai, ada yang mau kenalan sama lo"
"Anak akun angkatan 16" sambungnya.

Sontak saya kaget, pingin ngakak tapi kok gak sopan. Akhirnya, saya balas saja boleh menghubungi asal jangan telpon, karena saya tidak suka ditelpon, hehe. Fyi, dari dulu saya juga memang tidak betah telponan, apalagi dengan lawan jenis. entah, saya rasanya lebih senang bertatap muka langsung jika untuk ngobrol. Parahnya lagi, saya diminta follow back akun si anak 16 ini. Dan oh, ternyata dia anak yang follow saya beberapa hari lalu. Yang follow setelah saya meng-arsip semua foto di Instagram dan hanya menyisakan beberapa foto. Saya, masih saja ingin ketawa. 

Perkara ini hampir sama dengan drama korea yang sedang saya tonton judulnya "something in the rain". Saya merasa seperti nuna nuna yang pretty enough sampai bisa diminta kenalan sama adek tingkat. Ya, ini bukan pertama kali. Dulu waktu SMK juga pernah, tapi saya pikir di perkuliahan tidak akan lagi, lha wong saya kan tua, meskipun masih keliatan seperti anak 17 tahun, hehe. (Dear my beloved readers, kalau muntah ingat jangan didepan layar ya).

Sebenarnya hal ini menghibur saya. Ditengah gagal seminar minggu lalu, ditengah kekhawatiran saya akan pembahas yang konon kabarnya perfeksionis, dan juga ditengah pertanyaan keluarga "ada rencana nikah gak?" huhu. A simple humor sometimes heal every problem.

Hallo, dari saya perempuan 21 tahun. 
Sebuah usia muda untuk senang-senangnya. Usia untuk menikmati semuanya, termasuk Jatuh Cinta. Yang kaku dan kelu untuk mengungkap perasaannya yang dikira tabu. Yang diam-diam menumpuk rindu. Yang ingin tahu, kepada siapa hatinya sebenarnya berlabuh.

Saya benci untuk bicara jodoh, sebab rasanya tiap kali membicarakan saya tidak punya seorangpun untuk dibayangkan. Saya merasa seperti atheis yang tidak percaya kekuatan Sang Maha Kuasa. Saya benci ketika saya bahkan tidak bisa membayangkan indahnya pernikahan karena tidak adanya kepastian. Saya juga kadang ketakutan. 
Takut kalau nyatanya saya terlalu menyeramkan, takut kalau ternyata karakter saya tidak untuk dicintai. Takut kalau saya menjadi seperti seseorang, yang dikhawatirkan keluarga, takut saya juga jadi beban mereka. 

Seandainya boleh, saya lebih memilih seperti sekarang. Mencintai setiap orang layaknya teman. Tanpa saya bertanya apakah dia akan datang atau justru meninggalkan. Saya ingin hidup terus dengan kerja keras dan impian serta dilengkapi iman, tanpa sibuk memikirkan siapakah imam. Tapi nyatanya tidak mungkin, cepat atau lambat saya harus segera menyempurnakan iman.

Saya tidak suka kenyataan yang mempertontonkan ketika saya dalam bingkai kecantikan, namun tidak ada ketulusan. Semua mata memandang senang tapi membuat saya tidak tenang. Saya tidak suka dimana manusia hanya mengambil kebermanfaatan dan tidak menggunakan ketulusan. Saya, masih kaku dalam perasaan. Sekalipun suka, meskipun benci, hanya bisa dalam diam lalu meninggalkan.  Saya tidak lagi menginginkan permainan-permainan remeh dalam perasaan, yang diuji coba setiap waktu. Jika cocok dilanjut, jika tidak diganti. Sungguh, saya lelah dengan kenyataan seperti itu di usia ini. 

Semoga saya, dan kita semua dipertemukan dengan seseorang yang mampu menyenangkan tanpa meninggalkan. Yang ada karena ketulusan tanpa berharap mendapat keuntungan. Yang bersamanya dunia adalah kebersamaan dalam kebahagiaan dan kesulitan, bukan meminta kita menemani kesedihan dan meninggalkan saat kebahagiaan. Semoga kita semua berhak atas kebahagiaan dicintai dan mencintai dalam bingkai Ridho nya. 

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Sebuah Tujuan: We will fight!

"Hari ini hari terakhir" , Kata Ilham.

Dan yep, sukses membuat hatiku senang karena pada akhirnya aku memenuhi janji pada diri sendiri untuk tetap bertahan hingga akhir bulan. Ditengah-tengah keinginan untuk menyerah. Ditengah rasa kebodohan ku yang keral kali menyiksa. Ditiap hembusan syaitan yang selalu menggoda dari arah mana saja. Alhamdulillah, Laa Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Aku bersyukur pada Allah yang selalu menguatkanku, mengizinkanku untuk sampai pada titik ini.

Esok aku akan pulang. Pamit, dan minta uang jajan tentunya hehe. Untuk berangkat ke Kediri.

Aku tidak tau persis bagaimana Kediri, aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku sejauh itu. Tidak pernah bahkan kubayangkan diriku akan kesana. Sungguh Allah selalu menunjukkan sifat Maha Baik nya padaku yang tidak akan bisa kuhitung nikmatnya.

Aku sampai pada titik ini saja, aku sudah bersyukur. Dan rasa syukur ini akan aku wujudkan dengan kesemangatan ku melanjutkan tahap selanjutnya. Semoga aku tidak men…

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…

Bicaralah, mungkin orang lain mengerti

Siang hari, 15 Agustus 2017

Siang ini saya baru saja menyelesaikan ujian susulan matek, yahh.. Matematika ekonomi. Ujian susulan karena kasus yang bener-bener memalukan kemaren. Di post sebelumnya saya udah ceritain kasusnya (kalo udah baca).