Langsung ke konten utama

My Undergraduate Story : Alhamdulillah it's Quarter

Alhamdulillah,
Today is my day. Hari dimana akhirnya aku berhasil melewati satu tangga dari empat tangga yang ada. Bukan sebuah prestasi memang, tapi ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dijelaskan. Setelah melawan rasa malas, rasa takut, dan berbagai penyakit yang mulai kambuh, akhirnya hari ini bisa ditaklukkan dengan perasaan yang luar biasa bersyukur.

Sebelum lebih jauh, ku ucapkan jutaan terimakasih untuk tim balik layar. Para Crazy Squad (Devi, Debby, Cangga) supporting sistem dari jaman masih buluk sampai aku jadi mbak-mbak ekonomi yang diminta nomor hape oleh adek tingkat, Untuk Everlasting Team (Reza, Haro, , Ayu, Fariz) yang selalu kompak membantu menyemangati dan mendoakan setiap langkah perjalanan, untuk saudari sesurga ku, Dian Palupi yang selalu menyediakan lapangan sabar di hatinya untuk menerima berbagai reaksi negatif yang timbul akibat perskripsian ini, Ana Uhibbuki Fillah. Dan untuk berbagai pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih, Terima kasih banyak.

Drama pagi ini akan saya mulai dari ke hectic an saya walaupun persiapan telah 90% matang, Oh guys, if you know me "I'm the greatest one on preparing" haha muji diri sendiri. But seriously, pagi tadi rasanya masih panik sekali. Masih takut kalau-kalau gagal itu muncul di detik-detik terakhir. Karena minggu lalu, H-1 seminar, semua tiba-tiba gagal dalam satu keputusan dosen. Saya? Hancur. Mengembalikkan mood saya butuh waktu setidaknya satu hari, dan rasanya sesak sekali. Saya berdoa itu tidak pernah terjadi lagi. Dan saya istirja agar Allah menggantikan dengan yang lebih baik.

Dan benar saja, H-1 menit seminar saya hampir saja cancel karena dosen saya enggan menunggu kedua dosen lainnya. Saya hampir hancur, dalam hati hanya berkata "Ya Allah, gimana ini? tolong". Benar-benar kacau rasanya, karena persiapan saya benar-benar sudah fix. Sampai tiba-tiba, Allah mengirimkan rencana yang tidak pernah saya duga. Ada kakak tingkat yang susunan dosennya sama persis dengan saya. Hoah! Mimpi apa saya, rasanya benar-benar bersyukur.

Karena kakak tingkat ini kompre dan saya hanya seminar usul, jadilah saya di nomer duakan. Tidak apa-apa batinku, yang penting aku bisa seminar hari ini. Sembari menungggu, saya hanya membaca Quran sambil banyak istighfar, saya ingat dalil "Hanya dengan mengingat Allah lah hati akan menjai tenang". Toh membaca Quran juga akan mengabulkan doa-doa yang tidak saya sebutkan. Dan benar, hati saya tenang.

Sekitar 30 menit berlalu, dan akhirnya saya dipanggil, diminta untuk pindah ruangan. Rasa deg-degan itu semakin ada dan membesar, tapi tetap seperti biasa, pura-pura tenang. Dan ternyata, 3 dosen itu malah nyamperin ke ruangan, saya gak jadi pindah. Saya bahkan kaget karena ruang seminar bisa sepenuh itu, maklum, saya anak pertama di angkatan 2015 yang berhasil memecahkan telur. Such a happiness to doing this. Awalnya saya tidak mau berkabar sama sekali, tapi teman-teman bilang ingin tau supaya termotivasi, Saya akhirnya mengabari di grup kelas, satu jam sebelum jadwal seminar. hehe.

Begitu microphone itu sampai ditangan, dan Salam telah saya ucapkan. Entah bagaimana saya akhirnya berani menanggung apapun hasilnya. Saya masih bisa membantah dosen pembahas yang tadinya menyeramkan. Saya bisa berdiri, menyampaikan, tanpa ada rasa takut berlebihan. Rasanya, menit demi menit itu terlewati dengan penuh bahagia, dengan penuh rasa bangga. Yeay!  Alhamdulillah finally it's Quarter!!
Terimakasih, part of akuntansi 2015

Saya mengucapkan terima kasih pada semua teman yang telah hadir. Yang membantu terlaksananya seminar proposal saya dengan baik. Semua teman-teman yang selalu berada disisi saya. Yang saya kenal baik, sampai yang saya tidak kenal. Terima kasih atas hadiah dan doa-doanya, semoga malaikat berkenan untuk mengembalikan doa itu kepada kalian semua, Amin. Kepada seorang audience yang saya tidak mengira kehadiran nya, yang berulang kali menanyakan perasaan saya sehabis seminar, you're doing great! Thanks a lot. I've never imagine you will come that day.

Semoga saya bisa menyelesaikan dua bab akhir dengan baik,  semoga saya mampu melakoninya lagi, kuat dalam proses dan tidak mengeluh. Semoga saya bisa membantu banyak orang dengan langkah saya yang pertama. Semoga hati saya tidak lagi kecewa karena orang lain yang menyia-nyiakan,  semoga saya bisa berfokus pada tujuan dan bersyukur atas mereka yang selalu ada disisi saya.

Dari saya,
Yang baru selesai seminar proposal.
Thanks A lot, My beloved Team.
You guys the best!

Crazy Squad

Everlasting Team (-Fariz) 
Miss Dian Palupi 💕

Komentar

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.