Langsung ke konten utama

Kuharap Itu Dirimu



oleh: Fira P. Nuraini

Aku selalu bertanya, bolehkah menyimpan nama seseorang dalam doa?

Ketika hati sudah tak mampu menampung beratnya rasa,
Ketika rindu tanpa sadar kian sering sesakkan dada,

Ketika ungkapkan cinta adalah hal yang belum mungkin jadi nyata,
Ketika itulah aku bertanya, bolehkah aku menyimpan nama seseorang dalam doa?

Hai, kamu.
Aku sungguh tak tahu pada siapa harus kusampaikan ini.
Hingga hanya pada-Nya lah aku bisa bebas bercerita di siang maupun malam hari.
Maka, bolehkah aku menyimpan namamu dalam doa?

Sebab, kuharap itu dirimu.
Kau yang kulihat miliki banyak kelebihan.
Bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang kepribadian.
Sehingga bertemu denganmu selalu buatku terpesona.
Bagiku, kau hampir mendekati sempurna.
Salahkah bila aku berharap suatu saat kita kan bersama?

Namun, teori kesempurnaan itu terpatahkan
Tatkala aku disuguhi fakta bahwa kau juga punya kekurangan.
Sebagian kekurangan itu mungkin bisa kuterima
Tapi sebagiannya lagi, justru membuatku berpikir ulang,
Benarkah aku ingin habiskan hidup bersamamu hingga hari tua?

Lama-lama, aku lelah juga
Memendam rasa yang tak kumengerti ini dengan penuh tanda tanya.

Belum lagi, saat aku menemukan bahwa lelaki lain yang jauh lebih hebat darimu ternyata banyak!
Dan mereka pun miliki kelebihan dan kepribadian yang membuatku menerka,
“Maybe he’s the one!”

Ya, ternyata rasa itu bisa teralihkan
Hingga melupakanmu pun tak lagi mustahil untuk dilakukan.
Entahlah.
Apakah rasa seperti ini memang tak sanggup lama bertahan?

Kini, doaku tak lagi dipenuhi namamu.
Aku pasrahkan semua pada-Nya yang memberikan cinta dalam hatiku.
Lagi pula, aku tak pernah tahu apakah kita sungguh-sungguh serasi untuk satu sama lain, bukan?

Alih-alih ‘memesan’ nama, mengapa aku tidak meminta saja diberikan pasangan yang betul-betul cocok denganku, yang ‘kan saling melengkapi, dan yang memiliki segenap kriteria yang kudamba?

Ya, kuharap itu dirimu.
Kamu, lelaki yang membina ikatan suci denganku didasari cinta pada Allah dan Rasul-Nya,
Yang mau bersama-sama mengarungi masa dan belajar tentang kehidupan,
Yang akan membimbing dan mengingatkanku ketika aku terlupa,
Yang menerima segala yang kupunya maupun tidak dan bertekad untuk melengkapinya,
Yang tidak akan pernah berlaku kasar, sebab, hei, ingat, perempuan begitu sensitif bagai Mimosa pudica.

Aku juga ingin itu kamu.
Yang ‘kan berbakti pada orangtuaku sebagaimana pada ibu bapakmu,
Yang mau berusaha untuk menjadi ayah terbaik bagi buah hati kita nanti.

Sungguh, kuharap itu dirimu.
Yang selama ini sabar menjaga diri dari hubungan yang tak semestinya sebelum kita menikah,
Yang ketika bersamamu, surga terasa lebih dekat untuk digapai.

Maka bagaimana aku bisa berkhayal ‘kan dipersatukan dengan lelaki yang menjaga diri bila kini diriku saja tak menjaga hati?

Sekali lagi, kuharap itu dirimu.
Lelaki shalih yang belum kutahu siapa namamu, pun dimana kita akan bertemu. Namun, kuyakin, kaulah orang terbaik yang Ia pilihkan khusus buatku.
Insyaallah, aku akan memantaskan diri untuk itu.

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…