Langsung ke konten utama

Nikah setelah lulus? Gimana ya

source:pinterest.com
Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban dari beragam sekuel-sekuel tulisan saya sebelumnya. Beberapa tulisan di awal tahun, pertengahan tahun, dan sepertinya akan saya tutup dengan tulisan ini di (hampir) akhir tahun 2018.

Dulu,waktu 2018 datang.  Seseorang menanyai saya, apakah saya masih sibuk kuliah? Apa kesibukan saya saat itu? Dan ada juga beberapa pertanyaan lain yang sepertinya terlalu privat untuk saya jawab. Hmm, saya masih jawab santai waktu itu. Tidak ingin pusing apalagi ribet, karena waktu itu saya masih kuluah di semester 5. Jelas masih hectic sekali karena kuliah dan ditambah beberapa organisasi dan pekerjaan,  saya sampai harus benar-benar memilah mana yang penting dan tidak penting. Mana yang sekiranya harus saya pilih. Dan menikah nyatanya bukan pilihan saya, pun saya juga kesal kenapa pikiran "menikah" sudah mulai samar-samar terdengar di kalangan teman-teman saya. Yaah walaupun saat itu bagi kami, nikah hanya guyonan, hanya bahan candaan.

Sampai pada akhirnya di pertengahan tahun, teman saya menikah. Woah! Kaget yang tak tanggung karena yang menikah adalah teman sebangku saya semasa SMK, rasanya menampar saya. Cukup menampar untuk anak usia 21 tahun yang masih haha hihi ketika diajak membahas pernikahan.

Saat itu, saya masih berdalih. Masih beranggapan bahwa dalam waktu dekat, tidak akan ada lagi teman-teman saya yang akan menikah. Mereka semua masih sama dengan saya, masih senang sendiri dan bermain-main. Apalagi teman kuliah saya, ah saya yakini mereka tidak akan secepat itu menentukan pernikahan.

Sampai kemudian minggu lalu, seorang teman meng-upload foto lamaran nya. Gubrak!  Bak petir siang bolong (ehe lebay)  saya cuma bisa bengong dan bingung . Hmm dan begitu juga teman-teman sekelas kami yang perempuan . Masih hangat jadi perbincangan kami kaum perempuan.

Belum cukup dengan berita itu, seseorang (yang bisa dipercaya) beberapa waktu lalu menanyakan berapa lama lagi saya akan lulus, dan kau tau kenapa?
Sebab katanya,  seseorang telah menungguku untuk lulus. Ah, jangan tanya saya, sesaat setelah mendengar itu,  hati saya kaget, senang, rasanya tenang, mengetahui seseorang telah ada di puncak sana, di titik dimana saya sedang berusaha menggapainya. (yah, apalagi yang kita cari sebagai perempuan selain sebuah kepastian?). Aneh memang, saya bisa senang walaupun saya tidak tau siapa orangnya, apakah saya bisa setuju, apakah saya mengenalnya, yang saya rasa waktu itu saya cuma senang. . Cuma senang.

Beberapa hari berlalu , dan saya tidak ingin mencari tau siapa penunggu itu. Bukannya condong , hati saya justru berbalik hari ini. Oh Allah , sungguh engkau lah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu. Pun selalu tetapkan aku atas barokahmu disegala hal, termasuk jodoh.

Saya berubah pikiran sesaat setelah menonton drama korea, berjudul "Rich Man" yang jsutru membuat saya dapat pencerahan baru. Juga mungkin beberapa statement ibu saya turut memengaruhi pikiran saya. Sebab saya jadi berpikir, goes what? Kenapa buru-buru , tidakkah kamu ingin membahagiakan mereka dulu? Tidak sabar lagi? Takut tidak kebagian jodoh? What's wrong with you Ay?

Kata-kata ini berputar bergantian, saya jadi merasa berdosa. Bagaimana mungkin, saya yang telah dibesarkan dan dibiayai selama puluhan tahun ini dengan mudahnya meminta pernikahan kepada kedua orang tua? Tidakkah saya berpikir sebentar untuk membahagiakan mereka? Lagi pula, saya masih muda? Ahh. .
source: etsy.com
Tapi saya lagi-lagi berpikir , untuk apa menunda? Bukankah menggenapi separuh agama adalah yang terbaik. Bukankah orang yang paling miskin adalah yang belum menikah? Dan bagaimana jika kamu meninggal dalam keadaan belum memiliki imam? Tidakkah kamu ingin menumpuk pahala menuju syurga bersama-sama? Ahh. .

Semua nya nampak membingungkan, putaran impian, harapan, cita-cita rasanya bertolak belakang dengan pernikahan. Rasanya, tidak bisakah aku dipastikan namun tidak disegerakan? Ah,  ini lebih tabu lagi. Karena untuk apa dipastikan kalau tidak disegerakan.

Hmm, sepertinya ini bukan sekuel terakhir,  nyatanya 2018 bukanlah tahun dibersamakan. Dan tampaknya 2019 pun masih sama, masih tahun aku berjuang sendirian. . . .
Pada akhirnya, tulisan ini hanya muncul sebab saya kebingungan. Sebab saya yang terus-terusan berpikir dan bukannya berdoa. Juga, sebab saya hanya manusia biasa yang terbolaak-balikkan hatinya.
Yang pasti saya tau adalah, Allah telah berjanji bahwa perempuan-perempuan yang baik itu untuk laki-laki yang baik, pun sebaliknya. Dan Allah, tidak pernah mengingkari janjinya.

Komentar

  1. Jodoh menjadi perkara yang rahasia. Tapi juga dapat direncanakan. Semoga selalu istiqomah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.