Langsung ke konten utama

My Undergraduate Story : Sanwacana Online


Tulisan ini ditulis dari aku yang baru numpang makan di rumah keluarga Pak Rajino, seperti biasa. Kalau rindu rumah, atau stres, atau apapun yang terjadi.  Rumah ini rasanya seperti rumah yang jadi tempat singgah untuk mengisi kembali pundi-pundi semangat. Juga aku yang baru saja melihat mu melintas, is that you? Hehe



Karena beberapa minggu ini aku sedang disibukkan dengan persiapan wisuda yang butuh banyak sekali waktu, juga mood,  aku jadi jarang menulis hehe. Alhamdulillah, InsyaAllah bulan ini aku akan wisuda. Sesuatu yang sangat aku inginkan tahun lalu. Akhirnya wisuda jadi nyata. .

Selain itu, aku juga disibukkan dengan rutinitas baruku. Kerja. Begitu singkat nya. Hal ini aku lakukan mengingat tagline tahun baruku yang ingin lepas secara finansial dari orang tua. Alhamdulillah, keinginan ini juga bisa terwujud. Walaupun aku terseok-seok memenuhi kebutuhan ku sendiri. Maklum, selama ini semua disupport penuh, jadi dompet sedikit oleng ketika harus mencari sumber dana sendiri.

Masalah proses skripsi ku, dan juga pekerjaan ku, mungkin akan aku tulis dalam bait lain di sekuel ini. San wacana lengkap ku juga nanti bisa kamu baca setelah skripsi ku masuk ke digital library kampus, tapi sekarang,  aku akan berterima kasih pada jajaran manusia-manusia ini yang telah membantuku menghadapi stres perskripsian.

Kumulai dari orang pertama,
Kamu,
Cie haha
Orang yang menemani tumbuhku sejak aku pindah kesini, menjadi pendengar yang baik juga penolong yang tidak banyak tanya. Kulalui banyak hal, kuceritakan banyak cerita, dan kutanyakan banyak pertanyaan. Terima kasih karena selalu bersabar. Terima kasih untuk menyediakan telinga, menjadi penyemangat, menjadi pelindung, juga menjadi yang paling sering aku marahi ketika moodku tiba-tiba kacau selama perskripsian. Allah begitu baik mengirimkan kamu kepadaku disaat yang begitu tepat. (Yaa walaupun aku harus menangisi kamu 2 kali dalam setiap seminar ku).  Haha but it just past,  we don't need to talk about it anymore.

Kamu,
Orang yang tau kapan harus membantu, kapan harus berhenti peduli agar aku tangguh, kapan harus ada disisi, semua dilakukan dengan sebaik mungkin tanpa menyakiti. Terima kasih karena bertahan di masa sulitku. Yaa walaupun, kamu tidak pernah hadir dalam bentuk fisik diwaktu seminar hingga sidangku, yang aku tau, kamu telah membantuku begitu banyak. Tidak ada yang lebih berharga dari itu semua. Aku hanya bersyukur ada kamu di masa sulig itu. Ada kamu untuk sekedar dimarahi dan diajak sambat. Sekalipun aku tau, aku tak pernah lebih dari seorang sahabat. Hehe (bahkan mungkin tidak sedekat itu)

Aku tau bahwa kamu menginginkan kebahagiaan bersama orang lain, maaf yaa kalau aku merepotkan dan egois. Karena saat itu, yang aku mau, kamu ada untukku. Tapi kini, ku bebaskan kamu dari beban berat-seorang aku yang hobinya sambat.
Sekalipun hariku berat, penuh penat, kucoba untuk tidak merusak harimu lagi dan lagi. Mengurangi canduku pada dinding candamu.
Kamu berhak bahagia,  membahagiakan, dan dibahagiakan.
Aku, tidak akan lagi membuatmu tertekan. Jadi kamu tidak usah heran. Kejar saja yang kamu mau . .
Sekali lagi, terima kasih yaa. . .


Yang kedua,
Debby Arisandi Gusara
Teman dekatku yang semakin dekat karena skripsian, huhu.
Orang yang tau banyak tentang proses skripsi, dari mulai takutnya seminar, dimarahi dosen sampai menangis, dimarahi admin sampai nangis terisak, hingga kisah beruntung ku di pendadaran dan kompre.
Makasih cintakuuu, kuu tidak tau lagi harus semacam apa berterima kasih. Cause you treat me very well.
Makasih sudah menyediakan banyak jajan untuk sembari kita sambat, Makasih untuk makan siang burgernya waktu pendadaran, Makasih untuk gak banyak bertanya tiap kali aku menangis, Makasih untuk selalu adaaa. Ahhh. .
Aku tidak tau lagi menyebutkan yang mana karena aku begitu bahagia punya kamu
Semoga segera menyusul, maaf tidak bisa mendampingi seperti yang aku janjikan.
Karena banyak tuntutan keadaan :(

Yang terakhir,
Saudariku, Dian Palupi.
Maaf yaa, kalau gara-gara skripsi hubungan kita sempat renggang. Sempat stres masing-masing, sempat saling diam. Dan kamu, paling sering jadi korban.
Maaf karena aku terlalu dominan sehingga aku mendominasi kita.
Terimakasih karena selalu sabar.
Itu, kalimat yang aku selalu tulis. Tidak terhitung berapa banyak kita berdebat, kadang saling bergulat, kadang saling mendekat. Tapi kamu, tetap hangat. Eaa

Maaf karena aku sering kacau dan mengacaukanmu. Aku hanya tidak mampu mengontrol diriku saat itu. Semua bentuk kekanakan ku, sungguh ku sesali saat ini. Terima kasih karena telah menguatkan aku yang sering menangis karena kecewa. Terima kasih sudah sering mengingatkan dalam kebaikan.
Tetap jadi saudariku ya, Mba Dian.



Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

EL'S COFFEE : MENYAJIKAN KOPI LAMPUNG DENGAN SAJIAN INTERNASIONAL

Lampung, sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatera, Identik dengan kearifan lokal, sumber daya alam yang melimpah, dan kebudayaan yang mampu dikatakan sebagai 'miniatur indonesia'. Selain kebudayaan nya yang kental, Lampung juga selalu identik dengan sebuah minuman, minuman apa? Kopi! Yaps, kopi lampung adalah salah satu kopi yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kopi yang kebanyakan dibudidayakan di Lampung adalah kopi jenis Robusta. Perlu diketahui juga bahwa

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.