Langsung ke konten utama

Catatan Kecil Untuk Calon Dosen

source: Pinterest.com

Assalamualaikum

Hari ini adalah satu dari banyaknya hari setelah wisuda. Kerja, begitu aku menyebutnya. Aku yang biasanya pergi ke pasar untuk survei lalu melanjutkan pekerjaan ke kantor, hari ini berganti profesi. Mencicipi profesi lain, menjadi pengawas ujian. Alhamdulillah, sebuah kesempatan baru bagi lulusan baru seperti saya hehe

Pukul 07.30 saya sampai di sekolah, dan itupun harus dengan insiden nyasar-nyasar karena tidak patuh pada arahan google maps, maklum, kadang maps suka salah mengarahkan, jadi saya ngeyel aja. Padahal sebenarnya, saya yang sok tau inilah yang salah.

Saya disambut oleh salah seorang guru di sekolah, lalu masuk ke ruang kepala sekolah untuk berkumpul dengan assesor dari instansi lain untuk mengawas ujian dengan jurusan yang berbeda.

Hingga saat siang hari, saya diajak keluar ruangan oleh seorang guru. Hoah! ternyata mengawas ujian begitu membosankan. Dan yah, ternyata kalau kita mencontek, itu sangat kelihatan oleh pengawas. Tidak peduli jurus apapun yang kita keluarkan untuk menutupi gelagat mencontek. Hahaha, saya jadi tau ilmu baru. Suatu hari nanti, jika Allah berkenan, akan aku ceritakan momen ini pada anak-anakku. Agar mereka jadi jujur dan tidak mau mencontek seperti ibundanya dulu.

Saya kemudian mengobrol bersama kepala sekolah. Seseorang yang saya perkirakan usianya hampir sama dengan mbah kakung saya di rumah. Namun tetap gagah dan cerdas, wah! What a miracle.

Pertanyaan pertama saya mulai dari :
Lah kok bisa jadi kepala sekolah pak? // Karena Takdir Allah mbak.
Deg! Saya cuma diam lalu senyum-senyum seperti biasanya.

Kemudian bapak itu bertanya, Lah mbaknya sudah menikah atau belum?
Kemudian dijawab oleh guru yang sebelumnya menanyakan pertanyaan yang sama.
"Masih gadis pak" sambungnya.
Lalu dilanjutkan pak kepsek: Loh kenapa?
Jangan tanya aku, lagi dan lagi aku hanya senyum semanis mungkin sembari mbatin, Duh pak, saya ini habis patah sepatah-patahnya. Bapak kok nanya kenapa saya masih sendiri to :( bisa tiba-tiba curhat ini nanti saya hahaha

Percakapan kami jadi semakin panjang. Ntah kenapa, aku seperti memiliki magic sendiri bagi kaum-kaum lansia. Bakat ngobrol bersama mereka setidaknya sudah ku sadari sejak aku PKL di Polres Lamsel dulu. Aku bahkan sempat ingin dijodohkan ke anaknya. Hmmm..
Kukira hanya kebetulan, tapi tidak. Di pasar pun ada nenek-nenek yang sayang padaku. Menyuruhku memakan setiap kudapan dihadapannya jika aku kebetulan survei di tokonya. Dan kini, kepala sekolah inipun seolah betah ngobrol denganku. Aku yang hobi ngobrol ini, yaa pasti menikmati. Bagiku, setiap orang adalah pembelajaran.

Kepsek bilang padaku, bahwa ada 4 prinsip dalam hidup yang harus kita pegang: Jujur, Ikhlas, dan Sabar.. (yang keempat aku lupa hehe). Beliau menceritakan rekam jejaknya selama ini. Untuk pernah bekerja di tempat yang penuh dengan suap, bekerja menjadi guru SLTP, guru SMK, dosen, sampai sekarang akhirnya menjadi kepala sekolah di sebuah SMK Swasta di kotaku. Jugaa, ceritanya mengetik skripsi dengan mesin tik dan tanpa menggunakan tip-ex agar lebih hati-hati katanya. Kebetulan, kami dalam almamater yang sama. Sehingga beberapa percakapan terasa pas dan nyambung hihi.

Beliau menceritakan keluarganya, sampai pada cucunya yang kini telah memasuki semester enam. Tuh kan! dia seusia mbah kakung ku. Beliau juga mengatakan, bahwa setelah semua pekerjaan yang ia lakukan. Menjadi dosen adalah posisi yang paling menyenangkan. Sebab katanya semua mahasiswa pada umunya telah mampu berpikir sendiri. Sehingga lebih mudah.
Ah, aku jadi semakin ingin jadi dosen..

Satu pesan beliau yang paling lekat:
Mba kan sekarang kerjanya masih di kantor, jadi belum begitu terasa. Tapi mbak, satu pesan bapak, jangan menyusahkan orang lain. Insya Allah, hidup kita sampai nanti keluarga kita pun ngga di susahkan jalannya. Beliau bilang, semasa kuliah, seorang dosen menyulitkannya. Dan kemudian dia bersumpah bahwa suatu hari nanti dosen itu akan membutuhkan bantuannya. Dan ternyata terwujud. Apa nggak malu? sambungnya.

Nanti, kalau mbak jadi dosen, jangan menyusahkan orang lain mbak.Sama~ Jangan galak-galak mbak, anak-anak justru lebih segan sama kita kalau kita baik dan nggak marah.
(Aku dalam hati, loh darimana bapak ini tau aku ingin jadi dosen dan aku suka marah?)

Beliau juga mengingatkan untuk cari rejeki yang halal, sebab pengalaman hidup mengajarkannya bahwa rejeki yang haram itu membawa dampak buruk dikemudian hari. Beliau bersyukur bisa lepas dari rejeki yang haram dan kemudian menikmati keputusannya yang dianngap bodoh teman-temannya dahulu kala.

Begitu banyak yang diceritakan Pak Dariyo,
Pengalaman hidupnya tidak bisa terbayarkan. Dan aku menikmati ceritanya secara gratis.
Diberi snack serta makan siang.
Huah! Alasan apalagi yang membuatku kufur?
Dasar aku,
Calon Dosen dengan prasyarat khusus: Menikah (without knowing with whom)

Komentar

  1. Waaah! Seru.. semoga anak-anak kita nanti nggak punya kebiasaan menyontek yaahh!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

22 : Lakukan Karena Allah

Bismillahhirrahmanirrahim.

Dari aku, Aini Kolbiana
22nd years old. A woman. not a girl anymore.

Kutulis ini ditengah-tengah deadline kantor, di kamar. Seharusnya aku malam ini lembur bersama adik-adikku disana. Namun, jengah sekali rasanya dimalam pergantian tahun tapi dihabiskan di kantor, Aku, mau pulang saja hihi.

Maha Benar Allah, dengan segala firman-Nya

Kutulis ini diatas atap, hehe iya. Atap rumah orang tua ku. Sangking bahagia nya, sangking bersyukur nya, sangking tidak bisa lagi berkata-kata. Tidak menyangka bisa duduk diatas, melihat atap rumah orang dengan perasaan aman, karena rumah diatas. MasyaAllah . .

Sebuah titik untuk pergi

Wajah itu tak lagi sama
Senyum itu tak lagi bermakna
Tatapan mata itu tak lagi bernyawa
Kita, telah berbeda.