Langsung ke konten utama

These All belong to you

Hallo,
Assalamualaikum . .

Tulisan ini dibuat di pagi hari pas masih mager-magernya karena semalem baru pulang lembur jam 12 malem. Fiuh, Alhamdulillah.
Dibuat di hari libur yang nggak libur tapi punya sedikit waktu luang karena projek akhirnya selesai.

Mak, Pak,
Finally,  I did it.
Saya tau mungkin mereka ndak baca blog saya karena mereka not a sosial media addict apalagi blog. Tapi yang baru saya tau akhir-akhir ini, ternyata saya menurun sifat dari bapak, orang yang tidak bisa romantis secara tindakan tapi manis dalam tulisan. Kalau dulu bapak lewat surat (pas ldr sama mamak) sekarang aku lebih kekinian karena menulis di blog. Walaupun sosial, rasanya gak banyak yang baca juga hihi.

Three months after graduate, I've been work for two different places. I'm not getting a lot of money, but It's enough for my needs. Also, i got a lot of experience. You could check it on my linked-in. Hehe

I got a gift, a biggest gift this year. For becoming one of three best 'wisudawan' in my faculty. I do apologise for not being 'a cumlaude', I'm regret that i'm a lazy student between my super diligent class. Semoga, apresiasi berupa terbaik itu bisa sedikit jadi obat ditengah-tengah aku yang sedikit kecewa pada diriku karena untuk entah keberapa kali, aku tidak mampu menepati permintaan kalian. Maaf :')

Tapi, ditengah semua rasa syukur ku. Aku sangat bersyukur atas nikmat Allah yang paling besar, yaitu nikmat ditempatkan di keluarga yang sangat harmonis, keluarga yang demokratis, yang hangat, menyenangkan dan terbuka. I love this family, even if we having a chance to life twice, i will still choose this super comfy family.

Pernah ditengah-tengah kejengahan ku terhadap skripsi, ibuku bilang : Yauda ngga usah ngoyo. Gakpapa, lulusnya telat juga ngga papa. Mbrebes miliii air matakuuu :( . Aku (yang ambisius) ini suka tumbang disaat saat penting. Saat aku lupa bahwa aku bahkan tidak sanggup berjalan, tapi aku malah mencoba berlari. Aku sekerja keras itu, sekejam itu pada diri sendiri. If I wanna get something,  I'll fight to get it. No matter what. Dan yaa, sekali lagi rumah jadi tempat pulang, jadi tempat istirahat paling tepat.

Bahkan setelah aku lulus, dan bekerja.  Setiap bulan orang tuaku masih sering menelpon, menanyakan keadaan finansialku. Apakah aku makan dengan baik, tidur dengan baik, apakah pekerjaan ku berjalan lancar, semua masih menjadi kekhawatiran mereka.
Maka benarlah kata orang bijak : Sebesar apapun kita, kita tetaplah anak-anak di mata mereka :)

Kemarin, aku yang sering mengeluh ini diminta pulang. 'Istirahat di rumah juga boleh nak' katanya. Dan aku, justru ingin menangis. Seandainya aku tidak di kantor, aku sudah sejadi-jadinya menangis.
Fikiran itu memang sempat terbesit, terutama karena aku ingin berhenti sejenak dari semua kelelahan ini. Tapi akhirnya urung, aku tidak lagi memikirkan itu justru setelah orang tua ku meminta ku pulang dan beristirahat. Karena aku merasa malu, malu pada diri yang sudah tua namun selalu meminta pada mereka.
Aku ingin tidak lagi membuat mereka khawatir, tidak lagi was was. Tapi itu tidak mungkin kan? Karena bagi mereka, aku tetap anak-anak.

Tidak perlu kuceritakan tentang begadang ku di kantor beberapa hari ini. Tidak perlu kubicarakan tentang aku yang menghemat jajan semenjak bekerja. Tidak perlu ku detailkan remuk badan setiap pagi hari. Yang mereka harus tau, aku melakukan ini untuk mereka.

Untuk membuat mereka bangga, untuk membalas jasa mereka, untuk membuat usaha mereka membesarkanku ini tidak sia-sia. Dan semoga, aku bisa membahagiakan mereka di dunia dan di syurga Allah kelak.
Aamiin

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Sebuah Tujuan : Alhamdulillah, I did it!

Kutulis ini di sebuah kafe favoritku, bukan kafe sih, sebuah kedai yang menjual aneka rasa susu sapi. Tempat me time favorit saya sedari kuliah. Kutulis ini dengan segala macam perasaan, terlebih perasaan takut lupa,jadi ku kenang saja sekarang ya.

Sebuah Tujuan: We will fight!

"Hari ini hari terakhir" , Kata Ilham.

Dan yep, sukses membuat hatiku senang karena pada akhirnya aku memenuhi janji pada diri sendiri untuk tetap bertahan hingga akhir bulan. Ditengah-tengah keinginan untuk menyerah. Ditengah rasa kebodohan ku yang keral kali menyiksa. Ditiap hembusan syaitan yang selalu menggoda dari arah mana saja. Alhamdulillah, Laa Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Aku bersyukur pada Allah yang selalu menguatkanku, mengizinkanku untuk sampai pada titik ini.

Esok aku akan pulang. Pamit, dan minta uang jajan tentunya hehe. Untuk berangkat ke Kediri.

Aku tidak tau persis bagaimana Kediri, aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku sejauh itu. Tidak pernah bahkan kubayangkan diriku akan kesana. Sungguh Allah selalu menunjukkan sifat Maha Baik nya padaku yang tidak akan bisa kuhitung nikmatnya.

Aku sampai pada titik ini saja, aku sudah bersyukur. Dan rasa syukur ini akan aku wujudkan dengan kesemangatan ku melanjutkan tahap selanjutnya. Semoga aku tidak men…

Main Kuis dapat Kuota Gratis

Hallo everybody..
Saat ini aku sedang cobain sebuah kuis berhadiah kuota gratis nih , Awalnya aku pikir ini semacam hoax karena hari gini gak mungkin ada yang gratisan kan?  Eh tapi karena aku penasaran dan udah banyak yang cobain, aku jadi penasaran juga buat ikutan. Yah, mencoba sesuatu gak ada salahnya kan.. (kalau kamu ragu ini hoax, kamu bisa langsung cuss untuk cek sendiri).

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…