Langsung ke konten utama

Garisan Qodar



Tulisan ini aku buat untuk diriku sendiri dimasa depan. Takut kalau suatu hari nanti aku patah. Takut kalau suatu hari nanti ekspektasi ku justru membuahkan masalah karena berbanding terbalik dengan realita.



Aku ingin menulis ini untuk diriku, agar aku tau, aku pernah sepasrah ini.

Tulisan ini terinspirasi dari banyak hal belakangan ini, mulai dari berita bahagia dan berita yang tidak bahagia.

Seorang temanku, teman dekatku. Beberapa bulan yang lalu telah melahirkan seorang bayi lucu, bahkan mungkin super lucu. Bayi perempuan yang pipinya gempal bak apel, tawanya hangat dan menyenangkan, jugaa, seperti selalu bayangan dan doa yang aku lantunkan: Ya Allah, aini mau punya anak yang lucu. Aaamiiinn.
Entah lah, dari semua doaku yang kurasa berbobot dan penting. Doa ini rasanya relevan sekali dengan hatiku. Saat semua orang bermimpi punya anak yang pandai, atau paham agama, atau apapun itu. Aku justru memikirkan dengan kadar lebih rendah. Lucu, atau mungkin lebih tepatnya menggemaskan.
Entah telah berapa kali kulantunkan kalimat ini dihadapanNya,
Dan lebih anehnya, bukannya aku meminta seorang pria tampan agar bisa punya keturunan yang lucu, aku justru tidak masalah jika suatu hari nanti dia bukanlah seorang yang rupawan.
Bagiku, anak" yang lucu merupakan bagian dari Qodar.

Tulisan ini juga terinspirasi dari lidah lidah tajam yang terus menerus bertanya: Kapan nikah?
Lemme answer this, sorry, for little bit sarcastic.

Biar kujelaskan padamu, pertanyaan ini tidak pernah penting juga tidak pernah membantu. Sebab jangankan kamu, akupun tidak tau kapan waktu itu akan terjadi. Kau pikir, cuma kau saja yang penasaran? Akuu jugaa.

Pernikahan bukan sesuatu seperti wisuda, bukan seperti pekerjaan, yang dengan upayaku sendiri aku bisa menggapainya. Pernikahan adalah tentang dua kerjasama yang baik antara hati yang ingin mengikat. Sedang aku? Tak tau pada siapa hatiku terpikat.
Sekali lagi, bukan hanya kamu yang penasaran. Akuu jugaa.

Beberapa temanku memang sudah menikah,  lalu, bukankah itu juga bagian dari Qodar?
Iya kan?
Pertanyaan mu itu, membuat ku bisa saja kufur nikmat, dan aku tidak mau.

Aku terbiasa pada pencapaian-pencapaian yang juga memang bagian dari Qodar. Aku terbiasa berhasil dengan mimpi-mimpiku. Aku terbiasa dengan tercapainya semua targetku. Tapi menikah, nyatanya tidak semudah aku berencana.

Aku ingin bersyukur pada setiap jengkal kebahagiaan yang Allah berikan padaku. Aku ingin bahagia, aku ingin menyadari bahwa ini adalah Qodar terbaik untukku.
Lagipula, masa sudah lulus cepat, kerja cepat, cepat nikah juga?
Alangkah beruntung nya aku?
Ahehe, tentunya, setiap hidup kita ada plus minusnya. Dan akuu, tidak menganggap masalah ini sebagai minus dalam hidupku.
Aku akan menganggap ini sebagai suatu pelajaran untuk bersabar, Aku mau percaya, bahwa Allah punya Qadar baik pula untukku pada bagian ini.

Kadang dalam hidup, kita kerapkali berpikir semua keberuntungan itu adalah hasil kerja keras kita. Iya, dulu akupun berpikir begitu.
Namun setelah perjalanan hidup yang naik dan turun, aku menyadari bahwa segala sesuatu yang kusebut kerja keras itu hanyalah secuil bagian dari apa yang kudapatkan. Nyatanya, aku hanya makhluk yang menerima Qodar dengan banyaknya kebaikan.
Untuk urusan kerja keras, aku telah melihat banyak orang lebih bekerja keras namun tidak seberuntung aku. Iyaa, aku hanyalah pengoleksi keberuntungan dariNya. Dan aku mensyukuri itu.

Telah banyak Allah berikan aku kebaikan. Harusnya aku malu jika aku menyatakan itu adalah hasil kerja kerasku. Ah, omong kosong.

Aku jadi ingat sebuah dalil: Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun setitik.

Naudzubillahi min dzalikk.

Ya Allah, jauhkan aku dari pemikiran sombong. Jauhkan aku dari segala pemikiran yang tidak engkau sukai. Ya Allah, ajari dan tetapkan hatiku atas rasa syukur terhadap semua Qodar mu.
Aamiin


(Maaf karena tulisan ini ngalor ngidul seperti biasanya)
*Sekali lagi, tulisan ini hanya reminder. Tidak perlu diperdebatkan. Setuju? Silakan ambil pelajaran.
Tidak setuju? Silakan ditinggalkan.
Terima kasih :)

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Sebuah Tujuan : Alhamdulillah, I did it!

Kutulis ini di sebuah kafe favoritku, bukan kafe sih, sebuah kedai yang menjual aneka rasa susu sapi. Tempat me time favorit saya sedari kuliah. Kutulis ini dengan segala macam perasaan, terlebih perasaan takut lupa,jadi ku kenang saja sekarang ya.

Sebuah Tujuan: We will fight!

"Hari ini hari terakhir" , Kata Ilham.

Dan yep, sukses membuat hatiku senang karena pada akhirnya aku memenuhi janji pada diri sendiri untuk tetap bertahan hingga akhir bulan. Ditengah-tengah keinginan untuk menyerah. Ditengah rasa kebodohan ku yang keral kali menyiksa. Ditiap hembusan syaitan yang selalu menggoda dari arah mana saja. Alhamdulillah, Laa Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Aku bersyukur pada Allah yang selalu menguatkanku, mengizinkanku untuk sampai pada titik ini.

Esok aku akan pulang. Pamit, dan minta uang jajan tentunya hehe. Untuk berangkat ke Kediri.

Aku tidak tau persis bagaimana Kediri, aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku sejauh itu. Tidak pernah bahkan kubayangkan diriku akan kesana. Sungguh Allah selalu menunjukkan sifat Maha Baik nya padaku yang tidak akan bisa kuhitung nikmatnya.

Aku sampai pada titik ini saja, aku sudah bersyukur. Dan rasa syukur ini akan aku wujudkan dengan kesemangatan ku melanjutkan tahap selanjutnya. Semoga aku tidak men…

Main Kuis dapat Kuota Gratis

Hallo everybody..
Saat ini aku sedang cobain sebuah kuis berhadiah kuota gratis nih , Awalnya aku pikir ini semacam hoax karena hari gini gak mungkin ada yang gratisan kan?  Eh tapi karena aku penasaran dan udah banyak yang cobain, aku jadi penasaran juga buat ikutan. Yah, mencoba sesuatu gak ada salahnya kan.. (kalau kamu ragu ini hoax, kamu bisa langsung cuss untuk cek sendiri).

Sebuah Tujuan: Bismillah

Bismillah, ku tulis ini pukul 2 dinihari.  Dari aku yang baru selesai curhat dan enggan melanjutkan percakapan. Dari aku, yang tidak bisa tidur. Dari aku yang besok akan berangkat, kembali, ke tempat dimana aku seharusnya.

Malam ini, kuhabiskan dengan berpikir. Menimang-nimang, apakah kamu, perlu kuberi tau perihal niatan baik ini. Atau tidak perlu, mengingat aku takut niatku menjadi salah. Tidak pernah ku fikiran ini sebelumnya. Namun rasanya, pagi ini, ku pikirkan ini masak-masak. Hampir saja ku ketik kalimat itu di kolom chat kita, semakin ingin ku ketik setelah mengetahui salah satu anggota keluargamu mem-follow ku di instagram. Bingung, sekaligus ge er. Tapi untuk apa? Sedang kita pun tidak pernah terlibat percakapan lagi.

Cukup dengan galauku yang tidak ada ujung ini, tiap kali pembahasan menuju padamu, detik itu pula aku bisa berceloteh kesana kemari, padahal, semua sepertinya telah usai.

Kutuliskan saja ini menjadi draft dalam banyak chapter kedepannya. Untuk menjadi penginga…