Langsung ke konten utama

Jadilah Versi Terbaik dari Diri Sendiri

source: pinterest.com
Tulisan pagi ini terilhami dari seorang rekan kuliah saya yang saat ini sedang mengadu perantauan di ibukota. Seperti biasa, selalu chat haha hihi untuk penghibur hati. Dan ya, beginilah isi chatnya

mohon maaf yaa doi sedikit kasar wkwk.

Kadang dalam hidup, melihat rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Kehidupan orang lain selalu identik dengan lebih bahagia, lebih enak, lebih menyenangkan dan lebih lebih lebih. Dan perasaan ini terkadang lebih dari kadang. Perasaan ini hampir saja selalu menghampiri kita. Untuk lupa bersyukur, untuk menelisik kehidupan kita yang mungkin lebih makmur.

Pernah suatu masa, rasanya begitu menjemukkan dengan kehidupan sendiri. Padahal, bisa saja saya lebih bahagia. Padahal, saya mengukur air di gelas kecil yang penuh milik orang lain, dan menangisi gelas saya yang hanya berisi setengah dimana ternyata gelas saya berukuran jauh lebih besar dari gelas orang lain. Ternyata, saya salah memandang perspektif.

Kadang, zona waktu juga menyakiti kita dengan berbagai alasan yang membuat kita kufur nikmat. Melihat orang lain menikah, jadi ingin menikah. Melihat orang lain lulus, jadi ingin cepat lulus. Melihat orang lain kerja, jadi ingin kerja juga. Padahal, zona waktu setiap orang berbeda. Dan bahkan mungkin, apa yang mereka capai belum kita butuhkan sekarang. Kita, cuma makhluk tamak yang juga bodoh. Kita amat pandai untuk melihat nikmat orang lain dan kekurangan yang kita miliki. Tapi tidak bisa melihat nikmat yang telah diberikanNya pada kita.

Pada beberapa tahap tertentu, sangat penting untuk melihat gelas kita sendiri sembari melihat zona waktu kita. Penting untuk sadar bahwa hidup kita dan hidup orang lain bukan untuk dibanding-bandingkan. Dan juga penting untuk menyadari bahwa aspek kebahagiaan setiap orang berbeda-beda.

Misalnya,
Ada seorang perempuan, yang menikah muda, dan memiliki seorang anak lucu. Dia bahagia pada anak bayi nya yang makan lahap, dan itu sah-sah saja.
Ada seorang gadis, yang lulus lebih dulu dari teman-temannya, bekerja di tempat yang bonafit, kemudian dia bahagia pada gaji bulanan, bahagia pada tiap weekend dan tiap tongkrongan, dan itu pun tidak salah.
Ada seorang laki-laki, hapalan Qurannya telah banyak, hidupnya tentram, pencapaiannya biasa saja, namun bekal akhiratnya dipersiapkan dengan baik. Dan dia merasa cukup, itupun sah-sah saja.
Ada seorang bapak, yang anaknya pandai, pencapaian keluarganya terus meroket, dan dia sangat bahagia pada keluarganya, dan itupun sah sah saja.

Lalu, pikiran kita sering kali pada: Ih dia enak banget ya? :(

Iya, kita kerap kali melihat nikmat hidup orang lain (dan saya pun juga). Padahal, tidak selalu kenikmatan itu muncul setiap saat. Bisa saja, ada ibu yang tidak bisa tidur karena anaknya rewel, ada karyawan yang stres setiap weekdays, ada yang bergulat dengan batinnya, ataupun ada kesulitan masa lalu yang seseorang harus hadapi dibalik semua kebahagiaan hidup yang dia dapatkan sekarang.

Kita selalu menuduh dunia telah menekan kita pada standar hidup bahagia dari berbagai toxic circle. Melalui post instagram yang selalu bahagia, melalui standar hidup artis, dan berbagai lainnya. Padahal bisa jadi, mungkin memang pikiran kita yang tidak jernih dan menghasilkan toxic mind bagi diri sendiri. Membuat kita kufur, selalu merasa kurang pada kehidupan sendiri, dan selalu merasa iri pada kehidupan orang lain. Hmm? jadi? dunia yang penuh dengan racun atau racun itu justru ada di diri kita sendiri?

Sangat penting untuk bersyukur pada apa-apa yang kita punya, Ibu saya selalu menekankan sejak kecil untuk selalu bersyukur pada kehidupan. Beliau seringkali menekankan:
Untuk urusan dunia, lihat ke bawah ( yang lebih susah) agar bersyukur. Untuk urusan akhirat, lihat ke atas (yang lebih baik) agar kita termotivasi untuk terus beribadah.
Dan iya, kita harus menyadari nikmat yang kita punya. Berhenti membanding-bandingkan. Dan hidup untuk masa kini-disini. Jangan terlalu merisaukan masa depan sebab Tuhan lah yang berkuasa untuk mengaturnya. Jadilah versi terbaik dari diri sendiri. Jadilah orang yang mensyukuri hidupnya dan menyadari bahwa gelas yang dimiliki saja ukurannya berbeda. Zona waktu yang dipunya berbeda. Jadi, kenapa harus membandingkan?
 

Komentar

Popular Posts

Daftar Kerja di Indomaret

Hallo vibes!!!
Dilansir dari bawah atap DC Indomaret Bandar Lampung, bersama banyak mas-mas dan cuma aku sendiri perempuan disini. Daripada bosen, better to write this experience to kill the time.

Kuatlah, Wahai Diri

Assalamualaikum, Aku

Sebuah jiwa yang diombang-ambing godaan syetan. Sebuah jiwa yang terbolak-balik hatinya. Sebuah jiwa yang naik-turun semangat nya.

Diarra Queen SPA : SPA dengan konsep alam yang menenangkan

Kegiatan sehari-hari aku sebagai mahasiswa itu benar-benar padat. Belajar di kelas, ngerjain tugas, belajar kelompok, organisasi, dan beragam urusan lainnya masuk dalam rutinitas sehari-hari. Badan dan wajah kadang udah gak tau lagi deh bentuknya gimana. Minyak dimana-mana, bibit-bibit jerawat, komodo komedo udah menempel khas di wajah. Selain karena faktor polusi, ini juga karena hormon yang timbul karena stres. Apalagi di musim-musim Ujian Akhir Semester, masalahnya jadi tambah satu lagi, Mata Panda! Ewh!

Memanfaatkan Momentum 11 November Untuk Self Reward

Sebagai makhluk hidup, terkadang kita bosan sama hidup yang gini-gini aja. Ngerasa gak ada perubahan atau bahkan stagnan di satu step yang membosankan. Jenuh, bosan, dan bahkan stres bisa melanda kita kapan saja. Yah, wajar dong. Kehidupan memang kadang menyeret kita ke hal-hal yang sulit. Itulah kenapa kita harus sayang sama diri kita sendiri, contohnya dengan sering memberi self reward pada diri kita ini.

Allyoung Muslima Serum Review

Kebanyakan perempuan, terutama para gadis biasanya lagi suka banget mainan make up dan nyobain skin care, aku adalah satu dari perempuan-perempuan itu. Mulai dari nyobain masker alami yang berbahan dasar bahan sehari-hari seperti susu, minyak zaitun, kopi, hingga berbagai buah-buahan udah beberapa kali dipakai jadi masker di wajah, hihi. Engga cuma skin care, aku juga suka ngumpulin alat-alat keperluan make up untuk dipakai sehari-hari, yah walaupun masih dalam tahap yang biasa aja dan gak terlalu banyak, setidaknya sedikit demi sedikit aku mulai belajar gimana caranya mempersiapkan diri sebelum keluar menghadapi dunia setiap harinya, hehe (kok berat sekali ya?)